GORONTALO, – Aktivitas tambang di perbukitan sekitar Botubarani dinilai menjadi ancaman bagi kelestarian wisata hiu paus di kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo.Abdul Wahab Matoka, warga Desa Botubarani, menceritakan bagaimana material longsor dari aktivitas tambang berupa batu, lumpur, dan kayu menerjang lokasi wisata hiu paus pada tahun 2024.“Saya menyaksikan sendiri, berada di lokasi saat banjir yang membawa batuan, kayu dan lumpur menghantam wisata hiu paus,” kata Abdul Wahab Matoka yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Hiu Paus Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, Selasa .Baca juga: Fenomena Aneh: Hiu Paus Muda Makin Sering Terdampar di Indonesia, Naik Lima Kali Lipat Sejak 2020Kisah ini ia sampaikan pada presentasi kajian pengelolaan tambang mineral bukan logam dan dampaknya terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo.Abdul Wahab menceritakan bagaimana banjir yang membawa material batuan ini bahkan merusak bangunan pos wisata di lorong tiga yang terbuat dari kayu.Lumpur dan batu terseret air bergemuruh turun dari sisi atas Dusun Tamboo Barat menuju pantai, melewati sungai yang penuh sedimen sebelum tumpah di perairan Botubarani yang masuk kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo.Untuk mengatasi limpahan material ini, para pelaku wisata melakukan mohuyula (gotong royong) membersihkan lokasi dengan menyewa alat berat.“Sekitar sepekan setelah banjir hiu paus tidak muncul,” ujar Abdul Wahab Matoka.Baca juga: Wisata Hiu Paus Gorontalo Disorot Konten Kreator, Benarkah Bentuk Eksploitasi?Ketidakmunculan ikan raksasa ini berarti kerugian bagi nelayan dan pelaku wisata di desa ini, mereka menganggur dan mengisi hari-hari dengan menata kembali tempat wisata ini.Cerita pelaku wisata ini merupakan ancaman nyata akibat aktivitas tambang batu di sisi atas Desa Botubarani.Ketua tim peneliti Raghel Yunginger dalam paparan kajiannya mengungkapkan, tambang batuan ini berdampak langsung terhadap lingkungan karena mengakibatkan sekitar 1,7 km sungai terdampak sedimentasi.Sebagian besar segmen sungai yang mengalami sedimentasi berada pada jarak sekitar 100 meter dari titik bukaan lahan utama.“Tebing dengan pelapukan batuan yang menghasilkan material lepas, tidak kompak (unconsolidated), dan ini dapat memicu gerakan tanah saat curah hujan dan mudah terbawa aliran air hujan,” tutur Raghel.Raghel juga mengakui bahwa keberadaan tambang memberi manfaat kesempatan kerja lokal, kenaikan pendapatan masyarakat, dan tumbuhnya usaha jasa pendukung.Namun riset ini juga mencatat dampak sosial ekonomi.
(prf/ega)
Aktivitas Tambang Ancam Wisata Hiu Paus di Kawasan Konservasi Teluk Gorontalo
2026-01-10 03:17:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-10 10:06
| 2026-01-10 09:53
| 2026-01-10 08:59
| 2026-01-10 08:45
| 2026-01-10 08:26










































