Mengapa Penipuan Lowongan Kerja Menjamur di Indonesia?

2026-01-10 09:24:53
Mengapa Penipuan Lowongan Kerja Menjamur di Indonesia?
- Indonesia disebut menjadi pusat penipuan lowongan kerja (loker) paling besar di kawasan Asia Pasifik.Hal itu berdasarkan data yang dirilis oleh Seek, perusahaan induk penyedia platform lowongan kerja Jobstreet dan Jobsdb.Laporan menyatakan, sepanjang Juli 2024 sampai dengan Juni 2025, Indonesia mencatat kasus penipuan sebanyak 38 persen di Asia Pasifik dan 62 persen dari total penipuan lowongan kerja di Asia.Operations Director Jobstreet by SEEK Indonesia, Willem Najoan mengatakan, fenomena tersebut sangat mengkhawatirkan dan membahayakan."Temuan SEEK ini menegaskan urgensi tinggi. Kita tidak hanya bicara soal kerugian finansial, tapi juga risiko keamanan serius,” kata dia dikutip dari Kompas.com, Senin .Lantas, mengapa Indonesia jadi pusat penipuan lowongan kerja terbesar di Asia Pasifik?Baca juga: Seek Ungkap Bidang Pekerjaan yang Rentan Kasus Penipuan LokerMenanggapi temuan itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, hal ini tak lepas dari efek psikologis orang-orang yang ingin segera memperoleh pekerjaan akibat tuntutan ekonomi.“Sangat berpengaruh, itu faktor utama,” kata Bhima kepada Kompas.com, Selasa .Di sisi lain, jumlah lulusan atau fresh graduate lebih banyak dibandingkan jumlah lowongan kerja formal saat ini.Bhima menyampaikan, hanya sebagian kecil lulusan yang berhasil diterima kerja di sektor formal.“Itu masalah struktural karena ada gap, hanya 37,6 persen lulusan fresh graduate masuk kerja di sektor formal. Berarti sisanya masuk ke sektor informal,” tuturnya.Baca juga: Masa Kontrak PKWT Habis, Kemenaker: Pekerja Berhak Dapat Uang KompensasiTak hanya itu, menjamurnya penipuan lowongan kerja di Indonesia juga akibat dari lemahnya pengawasan pemerintah terhadap penyedia atau pemberian informasi pekerjaan.Dia menilai, terbatasnya lapangan pekerjaan membuat adanya celah untuk melakukan penipuan oleh pihak tak bertanggung jawab.“Tapi masalah krusialnya adalah informasi pekerjaan tidak dicek oleh dinas ketenagakerjaan dan kementerian,” jelas dia.Bhima melihat, sistem lowongan kerja yang tidak terintegrasi secara masif menyebabkan banyak orang mencari pekerjaan melalui saluran alternatif yang berpotensi bodong atau fiktif.


(prf/ega)

Berita Terpopuler