- Myanmar menuai kritik luas setelah menyelesaikan pemungutan suara tahap pertama dari tiga tahap pemilu yang dinilai tidak kredibel dan bahkan disebut sebagai pemilu “palsu”.Penilaian tersebut muncul karena pemilu digelar di tengah pembubaran sejumlah partai politik besar, pemenjaraan para pemimpin oposisi, serta kondisi keamanan yang masih belum stabil akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung di berbagai wilayah.Bahkan, hingga separuh wilayah negara itu diperkirakan tidak dapat ikut memilih karena perang saudara.Pemilu ini berlangsung hampir lima tahun setelah militer merebut kekuasaan melalui kudeta, yang kemudian memicu konflik berkepanjangan.Sejumlah pengamat menilai junta militer, dengan dukungan China, berupaya menggunakan pemilu untuk melegitimasi kekuasaan sekaligus mencari jalan keluar dari kebuntuan politik dan konflik yang melumpuhkan negara tersebut.Baca juga: SpaceX Nonaktifkan Ribuan Perangkat Starlink yang Digunakan Sindikat Penipuan di MyanmarLebih dari 200 warga Myanmar didakwa karena mengganggu atau menentang pemilu Myanmar.Mereka dijerat undang-undang baru yang diterapkan pemerintah militer, dengan ancaman hukuman berat mulai dari penjara hingga hukuman mati.Selain itu, selama putaran pertama pemungutan suara pada Minggu , dilaporkan terjadi ledakan dan serangan udara di sejumlah wilayah.Kepala menteri setempat menyebut serangan roket ke sebuah rumah kosong di wilayah Mandalay pada dini hari melukai tiga orang.Di lokasi lain, serangkaian ledakan merusak lebih dari 10 rumah di Kota Myawaddy, dekat perbatasan Thailand, pada Sabtu malam.Seorang warga mengatakan satu anak tewas, sementara tiga lainnya dilarikan ke rumah sakit.Baca juga: Apa Upaya Indonesia usai Selebgram AP Ditahan Junta Militer Myanmar?Meski menuai kritik luas, sebagian pemilih menyebut proses pemilu kali ini terasa lebih disiplin dan sistematis dibandingkan sebelumnya.“Pengalaman memilih sudah banyak berubah. Sebelum memilih, saya takut. Setelah mencoblos, saya merasa lega. Saya memberikan suara sebagai seseorang yang telah berusaha sebaik mungkin untuk negara,” kata Ma Su Zar Chi, warga Mandalay.Pemilih pemula berusia 22 tahun, Ei Pyay Phyo Maung, mengatakan ia memilih karena percaya mencoblos adalah tanggung jawab setiap warga negara.“Harapan saya untuk masyarakat kelas bawah. Harga barang melonjak tajam, dan saya ingin mendukung seseorang yang bisa menurunkannya bagi mereka yang paling kesulitan,” ujarnya, seperti dilansir BBC, Minggu .Baca juga: Studi Gempa Myanmar 2025, Sesar San Andreas Bisa Picu Bencana Lebih Dahsyat
(prf/ega)
Pemilu Myanmar Tuai Kecaman, Dinilai Palsu di Tengah Konflik dan Represi Oposisi
2026-01-10 06:08:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-10 09:50
| 2026-01-10 09:35
| 2026-01-10 09:34
| 2026-01-10 08:56
| 2026-01-10 07:49










































