DEWAN Juri yang menentukan siapa layak memperoleh anugerah Nobel untuk kesusastraan pada hakikatnya merupakan para manusia biasa yang mustahil obyektif dan sempurna apalagi dalam menilai karya seni.Contoh utama adalah Leo Tolstoy yang saya yakin secara subyektif sebagai mahasastrawan terbaik sepanjang masa, bahkan sebenarnya sudah enam kali dinominasikan, terbukti tidak pernah menerima anugerah Nobel.Leo Tolstoy wafat pada tahun 2010, sementara Nobel lazimnya memang tidak memberi anugerah secara anumerta.Saya sudah membaca mahakarya para mahadwastrawan seperti Rabindrsnath Tagore, Bertrand Russel, Romain Roland, Heinrich Boell, Thomas Mann, Gunter Grass, Sinclair Lewis, Ernts Hemingway, John Steinbeck, Yasunari Kawabata, Dorris Lessing, Luigi Pirandello, Jean Paul Sartre, Albert Camus, Patrick White, Gabrielle Maria Marques. Elias Canetti, William Golding, Nagouin Mahfuiz, Toni Morrison, Czesav Milozsz , Rudyard Kipling, Ivo Andric dan lain-lain sehingga saya dapat sedikit mengenal selera, kehendak serta subyektifitas sekitar 18 dewan juri Nobel yang konon berkuasa seumur hidup.Belum terhitung latar belakang politik yang mewarnai penilaian terhadap Boris Pasternak dan Serge Solchenitizin.Untuk sementara ini, dewan juri Nobel tidak berani menghargai Salman Rushdie yang dikutuk Khommeini.Namun, terus terang saya kecewa bahwa para penulis kaliber langitannya langit-langit seperti Henrik Ibsen, James Joice, Mark Twain, Simone de Beouvoir, Frans Kafka dan George Orwell tidak pernah menerima Nobel.Setelah membaca mahanovel Il Gatopardo mahakarya sastrawan Italia, Guissepe Luigi di Lampedusa, terpaksa saya mengidap dendam bahwa penulis legendaris Sisilia ini tidak sempat memperoleh anugerah Nobel. Akibat Il Gatopardo dipublikasikan secara anumerta.Di sisi lain, saya sabar menunggu giliran para pendekar sastra Indonesia seperti Nasir Tamara, Goenawan Muhammad, Akmal Nasery Basra, Denny JA, Laksamana Sukardi, Sudirman Said, Teguh Santosa, Okky Madasari, Lukas Luwarso, Chappy Hakim, Sandyawan Sumardi, Andi Malarangeng, Frans Magnis Suseno, Setyo Wibowo, Seno Gumira Adjidarma, Eka Budianta, Swary Utami Dewi dan lain-lain untuk akhirnya tampil perdana menerima anugerah Nobel untuk Kesusasteraan. MERDEKA!
(prf/ega)
Sabar Menunggu Nobel untuk Indonesia
2026-01-10 09:24:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-10 09:38
| 2026-01-10 08:42
| 2026-01-10 07:54
| 2026-01-10 07:40










































