DI TENGAH hingar bingar industri tontonan digital, kita semakin intens disuguhi soft porn (konten bernuansa erotis) —dari gestur sensual, pakaian minim, hingga dramatika romantis yang digarap secara eksplisit, tapi tetap berada di batas ambiguitas moral.Fenomena ini kurang pas jika dipahami sebagai persoalan degradasi nilai atau melonggarnya etika.Ada fenomena atensi ekonomi yang jauh lebih keras dan sistematis bekerja di baliknya: pertarungan memperebutkan perhatian di tengah ekonomi digital yang makin kompetitif.Pada saat bersamaan, industri baru bernama mikro drama —drama superpendek berdurasi 30 detik hingga tiga menit— menjamur di hampir seluruh platform global.Ceritanya dibangun seefektif mungkin: dramatis, provokatif, penuh konflik emosional, dan sering kali menampilkan visual menggoda.Itu semua demi satu tujuan: penonton terjerat untuk mengejar episode berikutnya, membeli kredit premium, atau berpindah ke aplikasi berbayar.Inilah ekonomi atensi dalam bentuk paling telanjang—setiap detik harus dikonversi menjadi klik, data, dan cuan.Baca juga: Drama China: Layar Kecil, Pengaruh BesarSosiolog Jerman Armin Nassehi (2019) menulis bahwa inklusivitas digital tak hanya menghamparkan ruang partisipasi publik, tetapi juga membuka ruang bagi logika persaingan yang tak pernah berhenti.Ruang digital, kata Nassehi, merupakan arena tempat semua bentuk ekspresi menemukan peluangnya, sekaligus menjadi komoditas yang harus bersaing untuk terlihat.Dalam konteks ini, unsur soft porn (kontem bernuansa erotis) dan mikro drama menjadi strategi mendulang cuan dari para kreator maupun perusahaan hiburan di dunia.Perubahan ini tak bisa dilepaskan dari platformisasi. Nieborg, Poell, dan Van Dijck (2019) menunjukkan bahwa budaya digital kini diatur oleh tiga logika utama: datafikasi, komodifikasi, dan tata kelola algoritmik.Platform tidak lagi sekadar medium; ia menjadi arsitek seluruh rantai produksi, distribusi, hingga monetisasi.Dalam logika ini, platform mendorong tontonan yang singkat, intens, mudah dikonsumsi, dan memicu respons cepat.Mikro drama adalah bentuk yang paling sesuai dengan desain ini. Dengan puluhan episode mini, setiap potongan cerita dapat diuji oleh algoritma untuk menentukan mana yang memiliki daya tarik tertinggi. Semakin tinggi retensi, semakin besar pula sorotan algoritmik yang diterima.Tekanan untuk “terlihat” inilah yang membuat batas estetika, etika, dan norma sosial makin tipis. Tidak mengherankan bila banyak mikro drama menegosiasikan ambang sensualitas agar tetap berada dalam koridor kebijakan platform, tapi cukup provokatif untuk memicu klik.
(prf/ega)
Konten Erotis, Mikro Drama, dan Pertarungan Ekonomi Baru
2026-01-11 15:33:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:17
| 2026-01-11 14:40
| 2026-01-11 14:08
| 2026-01-11 13:23










































