ACEH UTARA, – Mulyadi, salah seorang pengungsi yang kini berada di Puskesmas Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, menyebut baru bisa mendapatkan sinyal dari telepon genggamnya pada Minggu . Itu pun hanya berlangsung sebentar.Selama empat hari terakhir, para pengungsi nyaris tidak bisa menghubungi keluarga di luar wilayah karena akses komunikasi lumpuh total imbas banjir besar yang melanda kawasan tersebut.Mulyadi, warga Keude Mane, Kecamatan Muara Batu, mengatakan bahwa bahan makanan di lokasi pengungsian sudah sangat menipis.“Kami hanya makan nasi dan mi instan. Telur pun sudah tidak ada. Mi instan sudah masak dengan cara rebus saja. Minyak goreng sudah tidak ada,” kata Mulyadi.Baca juga: 400 Mayat di Bandara Malikussaleh Aceh Dipastikan 1000 Persen HoaxIa menambahkan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah air bersih dan bahan pangan, karena seluruh sumber air seperti sumur turut terendam lumpur.“Air sumur sudah penuh lumpur, tak bisa digunakan lagi,” ujarnya.Kondisi serupa dialami para pengungsi di Blang Peuria, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.Ramadhan, salah seorang pengungsi, mengungkapkan kebutuhan utama adalah pangan, air bersih, dan obat-obatan.Meskipun banjir di wilayahnya telah surut, ketersediaan bahan makanan di toko-toko masih nihil.“Kebutuhan paling mendesak bahan makanan, air bersih dan obat-obatan. Karena mulai sakit para pengungsi. Sangat susah mencari kebutuhan bahan makanan saat ini. Kami harap bisa didistribusikan seluruh tim gabungan ke lokasi kami,” jelas dia.Sebelumnya diberitakan, banjir turut merendam sejumlah wilayah lain, yaitu Kabupaten Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireuen, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Utara.
(prf/ega)
Kisah Pengungsi Banjir Aceh: 4 Hari Tanpa Sinyal, Listrik Padam, Logistik Menipis
2026-01-12 02:04:34
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:49
| 2026-01-12 01:35
| 2026-01-12 01:23
| 2026-01-12 01:00










































