JAKARTA, - Bajaj, kendaraan mungil berwarna biru yang dulu merajai jalanan di Jakarta, kini seperti bayangan masa lalu yang enggan hilang.Meski jumlahnya tak sebanyak dulu, banyak warga menilai bajaj tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Jakarta. Kendaraan ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari identitas kota yang tak bisa dipisahkan.“Kalau lihat bajaj, rasanya kayak lihat Jakarta tempo dulu. Walaupun sekarang jarang naik, tapi tetap jadi ikon,” kata Fika (28), warga Jakarta yang ditemui Kompas.com, Rabu .Baca juga: Dari Bajaj Merah ke Biru: Jejak Sejarah Transportasi Mikro di JakartaNamun, modernisasi transportasi membuat bajaj kehilangan pangsa pasar. Tarif yang relatif mahal, kenyamanan terbatas, hingga ketiadaan integrasi dengan transportasi umum membuatnya kian tersisih.Bagi sebagian warga luar Jakarta, bajaj masih menjadi daya tarik unik yang sulit ditemukan di kota lain.Aziz (29), pengunjung asal Bandung, Jawa Barat, mengaku pengalaman pertamanya naik bajaj menjadi kenangan yang tak terlupakan.“Saya pertama kali naik bajaj lima tahun lalu. Rasanya unik dan otentik banget. Di Bandung enggak ada yang seperti ini,” ujar Aziz sambil tertawa kecil./Lidia Pratama Febrian Suara dari Setir Tiga Roda, Cerita Pengemudi Bajaj yang Enggan Tersingkir di Jakarta“Tapi sekarang, kelihatannya makin jarang. Orang lebih pilih ojol atau TransJakarta karena lebih cepat dan murah,” lanjutnya.Senada dengan Aziz, Ivan (27), warga dari Yogyakarta, menyebut pengalaman menaiki bajaj ketika berkunjung ke Jakarta memberikan kesan yang membekas.“Bagi saya, naik bajaj itu nostalgia. Tapi untuk warga lokal, mungkin sudah jadi pilihan terakhir,” katanya.“Masalahnya tarifnya sering dianggap kemahalan. Saya pernah dengar, cuma muter Monas bisa Rp 50.000,” imbuh Ivan.Baca juga: Bertahan di Tengah Modernisasi, Bajaj Masih Hidup di Jalanan JakartaWarga Jakarta sendiri punya pandangan yang lebih realistis. Fika mengakui masih sesekali menggunakan bajaj karena lebih cepat menembus kemacetan, terutama di pusat kota. Namun soal tarif, ia merasa perlu ada penyesuaian.“Untuk jarak pendek saja bisa Rp50.000. Padahal naik TransJakarta cuma Rp3.500. Harusnya pemerintah bisa atur tarifnya biar bersaing,” kata Fika.Sementara Rahayu (32), warga Menteng, Jakarta Pusat, menilai bajaj masih dibutuhkannya, terutama untuk perjalanan cepat./Lidia Pratama Febrian Eksistensi Bajaj di tengah Transportasi Modern Jakarta“Kalau lagi buru-buru, bajaj itu andalan. Bisa langsung sampai tujuan. Tapi jumlahnya makin sedikit,” ujarnya.Menurut Rahayu, bajaj bisa tetap bertahan di tengah gempuran transportasi umum yang lebih modern apabila pemerintah memberi ruang lebih lewat integrasi sistem dan pembenahan kendaraan.“Kalau tidak ada pembaruan, lama-lama orang lupa sama bajaj,” katanya.Bagi pengemudi seperti Andi (37), bajaj bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian hidup yang telah ia jalani selama lebih dari dua dekade.“Dari 2002 saya sudah narik bajaj. Dulu warnanya merah, sekarang biru. Dulu sehari bisa dapat Rp 300 ribu. Sekarang paling Rp 150 ribu,” katanya di Monas, Jakarta Pusat.Baca juga: Polemik Fotografi Pelari di Ruang Publik, Antara Hak Privasi dan Kebebasan BerkaryaAndi mengaku mulai merasakan penurunan penumpang sejak munculnya ojek online.
(prf/ega)
Bajaj Masih Ikonik dan Ada di Hati Warga meski Tak Jadi Primadona
2026-01-12 05:47:50
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:30
| 2026-01-12 06:02
| 2026-01-12 04:44
| 2026-01-12 04:36
| 2026-01-12 04:04










































