Rendahnya Nilai TKA: Kegagalan Sistemik Pendidikan Indonesia

2026-01-11 03:57:44
Rendahnya Nilai TKA: Kegagalan Sistemik Pendidikan Indonesia
RENDAHNYA hasil Tes Kemampuan Akademik SMA 2025 tentu menimbulkan keprihatinan luas di kalangan masyarakat pendidikan Indonesia. Hampir semua pelajaran nilai rata-ratanya rendah.Bahkan, nilai Matematika 36,1 dan Bahasa Inggris 24,93 tergolong sangat rendah (Kompas, 22/12/2025).Fakta tersebut menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai kompetensi akademik minimal.Fenomena ini memperkuat temuan asesmen nasional dan hasil PISA Indonesia. OECD melalui PISA Results 2022 mencatat skor Indonesia masih di bawah rata-rata global. Masalah ini bersifat sistemik dan berulang, bukan sekadar kejadian insidental.Permasalahannya bukan sekadar rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik, melainkan makna evaluatif di balik angka tersebut.Dalam teori evaluasi pendidikan, hasil belajar mencerminkan kualitas tujuan, proses, dan sistem penilaian pembelajaran.Benjamin Bloom 91956) melalui Taxonomy of Educational Objectives menegaskan keterkaitan tujuan, strategi pembelajaran, dan asesmen. Ketika mayoritas siswa memperoleh nilai rendah, kondisi ini menunjukkan kegagalan sistemik.Baca juga: Ketika Kelas Tak Lagi MengajarKegagalan tersebut bukan semata kegagalan individual peserta didik. Penilaian pendidikan tidak pernah sepenuhnya netral. Penilaian dipengaruhi desain kurikulum, metode mengajar, dan konteks belajar siswa.Oleh karena itu, rendahnya nilai TKA merefleksikan persoalan kolektif pendidikan nasional. Tanggung jawab perbaikan berada pada seluruh ekosistem pendidikan.Penyebab rendahnya capaian Tes Kemampuan Akademik berakar pada lemahnya fondasi literasi dan numerasi sejak pendidikan dasar.Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim menegaskan, kemampuan membaca bermakna dan bernalar matematis belum terbentuk kuat.Pernyataan ini sejalan dengan laporan OECD melalui PISA Results 2022. Laporan tersebut menunjukkan skor literasi dan numerasi Indonesia masih di bawah rata-rata OECD.Jean Piaget dalam teori perkembangan kognitif menekankan pembelajaran berlangsung bertahap dan berkesinambungan.Pembelajaran mengikuti perkembangan struktur berpikir anak. Ketika tahap awal tidak tercapai optimal, kemampuan berpikir lanjutan terhambat.Kondisi ini membuat siswa kesulitan memahami soal kontekstual dan analitis. Kelemahan fondasional tersebut terbawa hingga jenjang SMA. Dampaknya tercermin jelas pada rendahnya nilai TKA.


(prf/ega)