JAKARTA, - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Hassan atau Babe Haikal, menyampaikan kritik terhadap sejumlah maskapai nasional, Garuda Indonesia Group, Lion Air Group, dan AirAsia, yang dinilainya hingga kini belum menerapkan layanan makanan halal secara menyeluruh.Ia menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, justru tertinggal jauh dari negara lain yang sudah bergerak lebih dahulu.Kritik tersebut disampaikan Babe Haikal ketika mengungkapkan kisahnya beberapa tahun silam.Ia bercerita mengenai pengalaman pertama kalinya naik pesawat menuju Australia dengan menggunakan maskapai Qantas Airways.Baca juga: Kartu Pembiayaan Syariah Tumbuh 130 Persen, Bank Syariah Perkuat Alternatif Pembiayaan HalalKala itu, ia duduk di kelas ekonomi, namun tiba-tiba pramugari memberikan makanan hanya kepadanya, sementara seluruh penumpang lainnya tidak mendapat apa pun.Ia mengaku kebingungan, antara ingin makan tetapi takut, atau menolak karena merasa aneh dengan situasi tersebut.Tidak lama kemudian, pramugari kembali ke dapur dan baru setelah itu membagikan makanan kepada seluruh penumpang.Karena penasaran, Haikal bertanya, “Mengapa Anda menyajikan makanan kepada saya lebih dulu daripada yang lain? Kenapa?” ucap Babe Haikal.Jawaban sang pramugari membuatnya tertegun. “Oh maaf, Pak, Anda adalah tamu istimewa. Kami tahu dari nama Anda. Nama Anda Ahmad Hayekar Hasan. Kami menduga Anda seorang Muslim. Jadi kami memesan daging khusus untuk Anda,” lanjut Haikal menirukan jawaban sang pramugari.Haikal mengatakan, kejadian itu membuktikan bahwa pada 1992, Qantas sudah memperhatikan kebutuhan makanan halal tanpa diminta.Sementara itu, Garuda Indonesia hingga maskapai penerbangan lainnya hingga kini belum menerapkan hal serupa. “Ini tahun 2025, belum juga halal di Garuda, Lion, AirAsia. Come on, Bapak, Ibu sekalian, wake up,” kritik Haikal saat Rakornas Kadin 2025x di Jakarta Selatan, Senin .Menurutnya, halal bukan lagi isu yang terbatas pada dimensi agama saja, melainkan bagian dari pelayanan, kepuasan pelanggan, gaya hidup modern, simbol peradaban, kesejahteraan, kesehatan, kebersihan, dan kualitas.Berbagai negara menyebut halal dengan terminologi yang berbeda-beda. Kondisi serupa ketika Haikal meminta rekannya, Fahri Hamzah, melakukan survei kecil di Inggris. Hasilnya masyarakat di sana memandang halal sebagai going back to green life and protect the world atau “kembali pada kehidupan yang ramah lingkungan dan menjaga dunia.”Lebih jauh, dunia memandang halal sebagai standar kualitas dan bahkan kekuatan ekonomi, Indonesia justru masih berkutat pada perdebatan abstrak yang tidak produktif.Babe Haikal mengingatkan bahwa China telah menerapkan sistem halal sejak tahun 1980-an.
(prf/ega)
Babe Haikal Sindir Maskapai Nasional: Qantas Sudah Terapkan Halal Sejak 1992, Masa Tahun 2025 Kita Belum?
2026-01-10 09:48:35
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-10 09:54
| 2026-01-10 09:29
| 2026-01-10 08:43
| 2026-01-10 08:38
| 2026-01-10 07:52










































