Whoosh Melesat Super Cepat di Tengah Dugaan Mark-up dan Utang Jumbo Rp116 Triliun

2026-01-12 03:20:52
Whoosh Melesat Super Cepat di Tengah Dugaan Mark-up dan Utang Jumbo Rp116 Triliun
Jakarta - Ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di peron Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa, 4 November 2025, suaranya tegas dan penuh keyakinan.“Enggak usah khawatir, saya akan tanggung jawab nanti Whoosh semuanya.”Ucapan itu menjadi sinyal politik kuat bahwa pemerintah Prabowo akan mengambil alih penuh tanggung jawab atas proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh, salah satu warisan ambisius era Presiden Joko Widodo (Jokowi).AdvertisementNamun, di balik prestise proyek yang diklaim sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia itu, bayang-bayang persoalan besar masih membelit, utang jumbo Rp116 triliun dan dugaan mark-up dalam pembiayaan maupun pembebasan lahan.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini tengah mendalami dugaan penyimpangan dalam proses pembebasan lahan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh). Fokus penyelidikan bukan pada konstruksi fisik, melainkan pada pengadaan tanah yang disebut mengandung ketidakwajaran harga.“Materinya itu terkait dengan lahan, bukan masalah proses pembangunan,” kata Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, di Jakarta, Senin, 10 November 2025.Menurut Asep, penyelidik menemukan indikasi penggelembungan harga (mark-up) secara signifikan.“Yang seharusnya harga tanah itu 10, tapi dijual menjadi 100. Ini berarti ada ketidakwajaran harga yang harus dibayarkan negara,” ujarnya.KPK menduga perbedaan harga tersebut menyebabkan kerugian negara, lantaran pembayaran dilakukan jauh di atas nilai pasar. Penelusuran kini diarahkan pada sejumlah titik strategis jalur kereta cepat, dari Halim (Jakarta Timur) hingga Tegalluar, Kabupaten Bandung."Apakah di Halim, Bandung, atau di sepanjang itu, sedang kami dalami,” kata Asep menambahkan.Sebelum penyelidikan KPK itu mengemuka, mantan Menko Polhukam Mahfud MD lebih dulu menyoroti adanya indikasi mark-up dalam proyek Whoosh. Dalam video di kanal YouTube Mahfud MD Official pada 14 Oktober 2025, ia menyebut adanya perbedaan mencolok antara biaya konstruksi Whoosh di Indonesia dan di Tiongkok.“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Tapi di China sendiri, hitungannya 17–18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” kata Mahfud.Ia melanjutkan, “Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS, bukan rupiah, per kilometernya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark-up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini.”Pernyataan Mahfud itu kemudian ditanggapi KPK, yang pada 16 Oktober 2025 mengimbau dirinya untuk membuat laporan resmi terkait dugaan korupsi tersebut. Sebagai respons, Mahfud menyatakan siap memberikan keterangan bila dipanggil KPK.Dan benar, pada 27 Oktober 2025, KPK mengumumkan bahwa penyelidikan dugaan korupsi dalam proyek Whoosh sudah naik ke tahap penyelidikan sejak awal 2025.   


(prf/ega)