Hobi Belanja, Kenali Tanda Sudah Termasuk Kecanduan

2026-01-11 03:57:54
Hobi Belanja, Kenali Tanda Sudah Termasuk Kecanduan
- Belanja berlebihan yang sulit dikendalikan, dilakukan meski tidak dibutuhkan, dan menimbulkan masalah keuangan maupun emosional bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental. Kondisi tersebut dikenal sebagai kecanduan belanja  (shopping addiction atau compulsive buying disorder). Pada kondisi tersebut, seseorang terdorong untuk terus berbelanja tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau kemampuan finansial.Dampaknya tidak hanya berupa utang yang menumpuk, tetapi juga rasa bersalah, konflik dengan orang terdekat, hingga stres berkepanjangan.Baca juga: Mengapa Kita Suka Belanja Saat Stres? Ini Penjelasan PsikologShopping addiction sering terjadi tanpa disadari karena belanja merupakan aktivitas yang wajar. Padahal, bila dibiarkan, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi masalah serius yang memengaruhi kesejahteraan mental dan kualitas hidup.Melansir Healthline, shopping addiction hingga kini belum diakui sebagai gangguan tersendiri oleh American Psychiatric Association. Artinya, belum ada kriteria diagnosis resmi seperti pada gangguan mental lainnya.Meski begitu, banyak pakar kesehatan mental menilai perilaku belanja kompulsif memiliki karakteristik adiktif yang jelas, seperti dorongan kuat untuk berbelanja, rasa senang sesaat setelah membeli barang, serta kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut meski sudah menimbulkan konsekuensi negatif.Dalam banyak kasus, belanja memberi sensasi senang atau “high” sementara. Ketika otak mengaitkan belanja dengan perasaan lega atau bahagia, seseorang cenderung mengulang perilaku tersebut, hingga akhirnya membentuk siklus kompulsif.Baca juga: 4 Tips Belanja Hemat Kebutuhan Kamar Tidur Anak agar Tidak KalapKetagihan belanja sering kali tidak tampak jelas dari luar. Bahkan, sebagian orang dengan shopping addiction mampu menampilkan citra sukses, padahal sebenarnya tengah menghadapi masalah keuangan serius.Tanda yang patut diwaspadai antara lain terobsesi untuk belanja setiap hari atau setiap minggu, menggunakan belanja sebagai cara mengelola stres, dan membeli barang yang tidak diperlukan atau tidak pernah digunakan, Selain itu, menyembunyikan belanjaan, berbohong soal pengeluaran, hingga membuka kartu kredit baru untuk menutupi utang lama juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan.Kondisi tersebut biasanya diikuti rasa bersalah atau penyesalan. Jika berbagai upaya untuk berhenti selalu gagal dan utang makin sulit dikendalikan, kondisi ini bisa mengarah pada adiksi.Baca juga: Bukan Hanya soal Harga, Begini Cara Gen Z dan Milenial Memilih Produk Saat BelanjaBerbeda dengan kecanduan zat, belanja merupakan bagian dari kehidupan normal. Maka dari itu, berhenti belanja sama sekali bukan solusi yang realistis.Kesulitan muncul ketika belanja digunakan sebagai pelarian dari stres, kesepian, kecemasan, atau depresi. Tanpa bantuan yang tepat, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran belanja impulsif dan penyesalan berulang.Baca juga: Pakar Ungkap Alasan Munculnya Fenomena Rojali, ketika ke Mal Bukan untuk BelanjaShopping addiction dapat ditangani, terutama jika disadari lebih awal. Cara yang umum dilakukan adalah terapi perilaku dan konseling individu. 


(prf/ega)