Universitas Brawijaya Kembangkan Biochar dan Kompos untuk Pengelolaan Limbah Pertanian Berbasis Desa

2026-01-11 03:48:53
Universitas Brawijaya Kembangkan Biochar dan Kompos untuk Pengelolaan Limbah Pertanian Berbasis Desa
— Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi biochar dan kompos sebagai solusi pengelolaan limbah pertanian dan peternakan berbasis desa. Inovasi ini diterapkan di Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, untuk menjawab persoalan limbah sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.Pertanian dan peternakan merupakan sektor vital penyokong pangan, tetapi di sisi lain menghasilkan limbah dalam jumlah besar, mulai dari jerami padi, sekam, hingga kotoran ternak. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan, menurunkan kualitas tanah dan air, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca.Melalui penerapan teknologi biochar dan kompos, UB berupaya mentransformasi limbah menjadi sumber daya bernilai guna. Program ini merupakan bagian dari Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) yang bertujuan memperkuat hilirisasi riset perguruan tinggi agar berdampak langsung bagi masyarakat desa.Baca juga: Riset Dunia Ungkap, Biochar Bisa Jadikan Pengomposan Lebih HijauDesa Kuwonharjo dipilih karena merupakan sentra pertanian dan peternakan dengan produksi limbah jerami padi dan kotoran ternak yang cukup besar.Selama ini, jerami padi kerap dibakar setelah panen atau hanya dimanfaatkan secara terbatas, sementara limbah peternakan ditumpuk di sekitar kandang. Praktik tersebut berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan dan degradasi kualitas tanah.Dalam program tersebut, UB menyerahkan teknologi pengolahan limbah kepada Kelompok Tani Margo Utomo dan Kelompok Ternak Kuwon Maju sebagai mitra di tingkat desa. Teknologi yang diperkenalkan meliputi sistem pirolisis sederhana untuk mengolah jerami padi menjadi biochar serta teknologi pengomposan berbahan dasar limbah organik dan peternakan.Baca juga: Biochar dari Limbah Manusia Dapat Atasi Kelangkaan Pupuk GlobalSebagai informasi, program tersebut didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2025.Ketua Tim Pengabdian Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Nur Hidayat, MP, mengatakan pengelolaan limbah berbasis desa menjadi kunci dalam mendorong pertanian berkelanjutan.Biochar dan kompos dinilai mampu memperbaiki sifat tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.“Limbah pertanian dan peternakan memiliki potensi besar jika dikelola dengan teknologi yang tepat. Biochar dan kompos tidak hanya memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga menekan biaya produksi pertanian,” ujar Nur Hidayat dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis .Baca juga: Dipimpin Adik Prabowo, Indonesia Kini Punya Asosiasi Pengembang BiocharKegiatan turut didukung oleh anggota pengabdian, Prof Dr Sucipto, STP, MP dan Lia Nihlah Najwah, SIP, MSi. Selain itu, turut berperan aktif mahasiswa pascasarjana, yakni Indah Fitriana Subekti, ST, Arlis Erliana Savitri, ST, serta Sania Rahma Kurniawati, STP.Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan berdasarkan hibah dengan nomor kontrak 500/C3/DT.05.00/PM-PTTI/2025.Selain manfaat lingkungan, inovasi tersebut juga diharapkan membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa melalui pengelolaan limbah secara kolektif. Pendekatan berbasis kelompok dinilai dapat memperkuat kemandirian petani sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi desa.Baca juga: Biochar Diangkat Jadi Andalan Baru Tekan Emisi GRK Program pengabdian dilaksanakan pada periode Oktober–Desember 2025, mencakup identifikasi potensi limbah, serah terima teknologi, serta pendampingan teknis kepada mitra desa.UB juga memberikan pelatihan produksi dan pemanfaatan biochar serta kompos di lahan pertanian, disertai evaluasi dampaknya terhadap kualitas tanah.“Dengan demikian, Desa Kuwonharjo diharapkan dapat menjadikan inovasi ini sebagai ciri khas daerah sekaligus sumber pengembangan ekonomi baru,” kata Nur Hidayat.


(prf/ega)