Kisah Para Prajurit Ukraina yang Tak Dihormati Sebagai Pahlawan

2026-01-11 22:44:11
Kisah Para Prajurit Ukraina yang Tak Dihormati Sebagai Pahlawan
Penulis: Anastasiya Gribanova/BBC News IndonesiaArtikel ini mengandung detail yang mengganggu dan referensi tentang bunuh diri. Beberapa nama telah diubah untuk melindungi identitas. - Kateryna terus menangis ketika menceritakan kembali mengenai putranya, Orest. Suaranya bahkan bergetar karena campuran marah dan luka saat harus menjelaskan bagaimana putranya meninggal."Negara mengambil anak saya, mengirimnya ke perang, dan mengembalikan tubuhnya dalam kantong. Itu saja. Tidak ada bantuan, tidak ada kebenaran, tidak ada apa-apa," ujarnya.Orest meninggal di garis depan Ukraina yang berada dekat Chasiv Yar, di wilayah Donetsk pada 2023. Menurut penyelidikan resmi militer, ia meninggal akibat luka yang disebabkan diri sendiri atau bunuh diri.Atas dasar ini, Kateryna meminta agar identitasnya dan putranya dirahasiakan mengingat stigma yang melekat di Ukraina terkait bunuh diri dan gangguan kesehatan mental.Baca juga: Perdana, Ukraina Serang Kapal Qendil Armada Bayangan Rusia di Laut NetralAwal tahun ini, Presiden Volodymyr Zelensky menyatakan lebih dari 46.000 tentara dan perwira Ukraina yang meninggal. Namun para pengamat meyakini angkanya lebih dari itu.Namun, tak ada data yang pasti mengenai jumlah tentara Ukraina yang tewas dalam pertempuran selama beberapa tahun ini.Bahkan ada tragedi yang lebih kelam di balik tewasnya para tentara Ukraina, yakni mereka yang bunuh diri dan kepedihan keluarga yang ditinggalkan beserta stigma dan keheningan yang mengiringi.Tentu saja, tidak ada statistik resmi terkait perihal bunuh diri ini di kalangan tentara.Pejabat setempat menggambarkannya sebagai kejadian luar biasa sehingga jumlahnya tak banyak. Namun, aktivis hak asasi manusia dan keluarga yang berduka percaya angkanya mungkin mencapai ratusan.Cerita Kateryna hanya salah satu dari tiga cerita yang dikumpulkan BBC. Mereka merupakan keluarga yang anggotanya meninggal karena bunuh diri selama bertugas. Setiap cerita mengungkapkan pola yang menyedihkan tentang kelelahan psikologis dan sistem yang mengabaikan mereka.Baca juga: Cegah Ukraina Bangkrut dan Perang Lawan Rusia, Uni Eropa Kucurkan Utang Rp 1.765 TriliunLIBKOS via AP PHOTO Tentara Ukraina menembakkan mortir ke posisi pasukan Rusia di garis depan dekat Bakhmut, wilayah Donetsk, Ukraina timur, Sabtu .Orest adalah pemuda berusia 25 tahun yang pendiam. Ia gemar membaca buku dan bermimpi memiliki karier akademis. Semula pada awal perang berlangsung, Orest dinyatakan tak layak bertugas karena punya permasalahan penglihatan.Namun pada 2023, patroli perekrutan menghentikannya di jalan. Kemampuan penglihatannya diperiksa ulang. Hasilnya, Orest diputuskan layak bertempur. Tak lama setelah itu, ia dikirim ke garis depan sebagai spesialis komunikasi."Orest ditangkap, bukan dipanggil," kata Kateryna dengan nada getir.Pusat perekrutan lokal membantah tuduhan tersebut kepada BBC. Meski ada gangguan dalam penglihatan, Orest dinilai "cukup layak" bertugas selama perang sehingga dipanggil.Pascapenugasan di dekat Chasiv Yar, Orest menjadi semakin tertutup dan depresi, kenang Kateryna. Ia pun menulis surat kepada putranya tiap hari selama 650 hari lebih hingga kabar buruk itu sampai. Kesedihannya makin menjadi saat pemberitahuan penyebab kematian putranya.Di Ukraina, bunuh diri dianggap sebagai kerugian non-tempur. Keluarga dari mereka yang meninggal karena bunuh diri tidak menerima kompensasi, kehormatan militer, atau pengakuan publik.


(prf/ega)