JAKARTA, - Kondisi industri otomotif nasional sepanjang 2025 masih menunjukkan perlambatan.Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales hanya berada di kisaran 780.000 unit hingga akhir tahun, turun signifikan dibanding capaian 2024 yang menembus lebih dari 850.000 unit.Penurunan ini menggambarkan pasar yang belum pulih sepenuhnya, baik dari sisi permintaan maupun kepercayaan konsumen.Baca juga: Perjalanan Neta di Indonesia: Dari 15 Diler Menjadi 2CEO Auto2000, Anton Jimmy Suwandi, mengatakan bahwa industri sedang berada pada titik yang membutuhkan intervensi kebijakan untuk kembali bergerak. “Ya intinya ginilah, bagaimanapun kan target market tahun ini udah turun. Itu fakta. Faktanya market turun,” ujarnya di Tangerang, Sabtu .“Kita berharap kalau bisa tahun depan market bisa naik lagi, dan bentuk apapun dari support pemerintah atau stimulus dari pihak-pihak lain juga kita butuhkan,” katanya.Anton menilai stimulus pemerintah dan dukungan lembaga pembiayaan menjadi faktor paling krusial untuk menjaga daya beli konsumen.Menurutnya, pembelian mobil, baik baru maupun bekas, masih sangat sensitif terhadap suku bunga, sehingga kenaikan bunga kredit membuat banyak calon pembeli menahan keputusan.Dok. Dyandra Promosindo Ilustrasi pameran otomotif IIMS 2025Ia menambahkan bahwa peran lembaga pembiayaan tidak kalah penting dalam mengurangi beban awal konsumen.Program bunga ringan, uang muka lebih terjangkau, serta fleksibilitas tenor disebut sebagai elemen yang dapat membantu menggerakkan pasar dalam jangka pendek.Di sisi industri, para pelaku usaha juga menunggu langkah nyata pemerintah, baik berupa insentif pajak, relaksasi pembiayaan, maupun kebijakan yang dapat mempercepat penyerapan produk lokal.Anton bahkan menyinggung bahwa stimulus seperti pada masa pandemi pernah memberi dampak signifikan dalam menjaga roda pasar tetap berputar. “Selain pemerintah, misalnya dari pihak kredit, kita butuhkan support juga. Semua stakeholder perlu mengonsider bahwa ini industri besar. Kita di diler saja punya 177 cabang, 7.000 karyawan. Itu kan perlu hidup juga,” kata Anton.Baca juga: Supercar Baru Toyota GR GT dan GR GT3, Top Speed 320 Kpj/STANLY RAVEL Toyota Veloz HybridSejalan dengan itu, Jap Ernando Demily, Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), menilai bahwa insentif bisa menjadi dorongan penting, namun keberlanjutannya harus berdasarkan evaluasi menyeluruh.“Sebagai bagian dari industri otomotif nasional, kami mendukung seluruh kebijakan yang dicanangkan untuk mendorong pertumbuhan industri di tengah kondisi yang challenging saat ini. Insentif merupakan salah satu bentuk kebijakan yang secara historis berdampak positif bagi market,” ujar Jap.Pihaknya mengajak pelaku dan konsumen untuk sama-sama mengobservasi serta memberikan masukan akan dampak insentif terhadap pasar otomotif beberapa waktu ke belakang. "Data inilah yang seharusnya menjadi dasar penentuan keputusan selanjutnya, apakah insentif ini berlanjut atau perlu ada kebijakan lain di masa mendatang,” ujarnya.Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa dunia industri menginginkan kebijakan yang terukur dan berbasis bukti, bukan sekadar program sementara tanpa evaluasi.Secara keseluruhan, industri otomotif berharap terciptanya ruang pemulihan melalui dukungan pemerintah dan lembaga pembiayaan.Baca juga: Jalan Pitara Depok Ditutup Sementara, Catat Rekayasa Lalu LintasDua elemen ini dianggap sebagai kunci untuk menstabilkan pasar dan menggerakkan kembali industri di tengah perlambatan ekonomi yang masih berlangsung.
(prf/ega)
Dukungan Pemerintah Diperlukan untuk Pemulihan Industri Otomotif
2026-01-11 15:27:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:37
| 2026-01-11 15:21
| 2026-01-11 14:50
| 2026-01-11 13:22










































