Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Coba Hindari 2 Kata Ini agar Sukses

2026-01-11 02:53:50
Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Coba Hindari 2 Kata Ini agar Sukses
- Pesan “Tahun Baru, Diri Baru” sedang berseliweran di mana-mana. Di media sosial, iklan program olahraga dan diet mulai bermunculan, sementara obrolan dengan rekan kerja berubah jadi cerita siapa yang niat melakukan perubahan, atau siapa yang akhirnya berhasil konsisten melakukannya.Masalahnya, kebanyakan resolusi Tahun Baru cuma bertahan sebentar. Banyak dari kita sudah menyerah bahkan sebelum pertengahan Januari.Tapi tahun ini bisa saja berbeda. Sejumlah ahli berbagi tips soal cara bikin resolusi yang lebih realistis dan yang paling penting, bisa dijalanin sampai akhir.Baca juga: Faktor Ekonomi Jadi Penghambat Pendidikan, Pentingnya Rencana KeuanganAkankah tahun 2026 menjadi tahun di mana kita akan "menurunkan berat badan", "mengubah karier", atau "beli rumah"?Hati-hati, menurut Dr Claire Kaye, seorang confidence coach, target seperti itu sebenarnya bukan rencana yang bisa langsung dijalani, melainkan tekanan buat diri sendiri.Resolusi seringkali gagal karena tidak jelas, tidak realistis, dan terlalu luas, katanya.Ia menyarankan untuk menuliskan apa yang berjalan baik dalam hidup kita, apa yang menguras energi, atau tidak lagi sesuai, dan di mana kita menjalankan hidup secara otomatis."Ketika Anda memahami apa yang lebih diinginkan, bukan hanya apa yang ingin dihindari, perubahan menjadi jauh lebih berkelanjutan," katanya.Tuliskan tujuan dengan fokus pada arah dan pengalaman daripada titik tetap. Ia menyarankan agar "Menurunkan berat badan" dapat diubah menjadi: "Saya ingin merasa lebih berenergi dan nyaman dengan tubuh saya, dan memahami apa yang membantu saya merasa seperti itu."Baca juga: Lulus Saat Dunia Kerja Tak Pasti? Ini Tips Membangun KarierFreepik Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang betah di zona nyaman.Hal lain yang perlu dihindari saat menuliskan resolusi adalah bahasa yang kaku seperti "selalu" atau "tidak pernah". Menurut psikolog Kimberly Wilson, dua kata itu menciptakan pendekatan serba atau tidak sama sekali yang sangat sulit untuk dipatuhi.Berjanji pada diri sendiri "Saya akan selalu lari pada hari Rabu" atau "Saya tidak akan pernah minum manis lagi" hanya akan membuat kita gagal."Contoh klasiknya adalah tentang diet atau olahraga, dan orang-orang berpikir bahwa jika mereka gagal satu hari, maka semuanya menjadi sia-sia," katanya kepada podcast BBC What's Up Doc.Baca juga: Dari Body Shaming Rita Sukses Capai Berat Badan Ideal Tanpa Olahraga Ia mengatakan orang seringkali mengembangkan pandangan sempit, menilai satu pilihan secara terpisah, padahal yang dibutuhkan adalah perspektif yang lebih luas yang menempatkan satu momen dalam konteks banyak momen lainnya.Dr. Kaye mengatakan tujuan harus ditulis dengan frasa yang fleksibel seperti "Saya ingin bereksperimen dengan", "Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang untuk", atau "Saya sedang mempelajari apa yang cocok untuk saya".


(prf/ega)