Indef Soroti Dua Sektor yang Bisa Maksimalkan Dampak Dana Rp 200 T Purbaya, Apa Saja?

2026-01-11 03:48:53
Indef Soroti Dua Sektor yang Bisa Maksimalkan Dampak Dana Rp 200 T Purbaya, Apa Saja?
JAKARTA, — Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Aviliani menilai kucuran dana Rp 200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) belum memberikan dampak optimal terhadap perekonomian.Pandangan tersebut disampaikan dalam acara "Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026: Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan" yang digelar INDEF. Sementara, kebijakan kucuran dana BI Rp 200 triliun ditetapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 276 Tahun 2025.“Jadi kalau kita lihat kontribusinya sudah mulai naik, tapi belum optimal,” kata Aviliani di Menara Danareksa, Jakarta, Kamis .Baca juga: Sudah Gelontorkan Rp 200 T, Purbaya Tambah Rp 76 Triliun untuk HimbaraIa menjelaskan, keputusan Purbaya itu memang menurunkan suku bunga. Sebelum dana digelontorkan, perbankan memiliki likuiditas, tetapi pertumbuhan kredit hanya 7 persen. Setelah kucuran Rp 200 triliun masuk ke Himbara, suku bunga langsung turun dan permintaan kredit mulai meningkat.Dampak penurunan suku bunga, menurut Aviliani, biasanya diikuti peningkatan investasi. “Biasanya kalau suku bunga turun ya, orang cenderung mencari alternatif lain, salah satunya anda bisa lihat indeks harga saham langsung naik,” ujarnya.Namun, ia menilai efek dana besar tersebut menjadi kurang optimal karena tidak diikuti kebijakan kementerian lain yang mendorong pertumbuhan sektor-sektor terkait.Baca juga: Purbaya Wanti-wanti Himbara Tak Beri Kredit ke Konglomerat Pakai Dana Rp 200 TTANGKAPAN LAYAR YOUTUBE Ekonom senior INDEF Aviliani dalam program podcast Filonomics Kompas.com.Menurut Aviliani, terdapat dua sektor yang berpotensi memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi. Pertama adalah pariwisata yang memberi kontribusi besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Kita kan lagi ada masalah daya beli ya? Harusnya kalau pemerintah itu concern pada kecepatan pertumbuhan ekonomi yang paling cepat itu di pariwisata,” kata Aviliani.Ia mengakui adanya kebijakan diskon pesawat dapat membantu menstimulasi pergerakan wisata. Namun, pemerintah daerah juga harus membangun ekosistem yang mampu menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Ketika pariwisata tumbuh, sektor makanan, minuman, dan akomodasi juga akan ikut menguat. “Itu bisa meningkatkan ekonomi,” ujarnya.Baca juga: Ekonom: Efektivitas Penempatan Dana Rp 200 Triliun Harus Dibuktikan Secara TerukurSektor kedua adalah hilirisasi industri pengolahan atau manufaktur. Menurutnya, investor saat ini cenderung memilih masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), termasuk KEK di Batang, Jawa Tengah, yang tengah diminati. Karena itu, pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan investor. “Kenapa dia cari Jawa? Karena Jawa itu masih murah tenaga kerjanya, harusnya kita menangkap itu loh, ketika orang mau kemana itu yang harus kita tangkap,” kata Aviliani.Ia menegaskan bahwa pariwisata serta hilirisasi manufaktur merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Pariwisata dapat menggerakkan UMKM dan memberi peluang bagi tenaga kerja menengah ke bawah yang mengalami tekanan pendapatan.“Jadi intinya adalah yang namanya bank itu adalah follow the business, jadi jangan minta banknya kasih kredit tapi enggak ada permintaan,” sentil Aviliani.Baca juga: BI Ungkap Dampak Moneter usai Purbaya Guyur Bank Rp 200 Triliun


(prf/ega)