Refleksi Hari Ibu: Ruang Aman bagi Ibu Menentukan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

2026-01-11 23:33:11
Refleksi Hari Ibu: Ruang Aman bagi Ibu Menentukan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini
- Seorang perempuan kerap diperkenalkan dengan banyak nama. Ia dipanggil dengan namanya sendiri, nama suaminya, atau nama anaknya. Satu tubuh, banyak panggilan. Satu jiwa, banyak peran. Namun, di balik ragam nama itu, tersimpan beban yang jarang dibicarakan secara jujur: tanggung jawab sebagai istri, tuntutan sebagai ibu, kewajiban sebagai anak perempuan, dan tidak jarang, peran sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.Di ruang publik dan media sosial, perempuan, khususnya ibu, sering disapa dengan kalimat yang terdengar menenangkan, seperti “ibu itu kuat”, “perempuan itu hebat”, atau “sabar ya, Bu, pahalanya besar”.Sayangnya, kalimat-kalimat tersebut kerap menjadi selimut halus yang menutupi luka perempuan.“Kalimat pujian tentang ketangguhan ibu sering kali justru menjadi cara paling sopan untuk mengabaikan penderitaan mereka,” ujar Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Beatrix Novianti Bunga dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin .Baca juga: Grandparenting dan Pengasuhan Orangtua, Sinergi atau Seteru? Beatrix menilai, ungkapan-ungkapan tersebut seolah menormalisasi beban berlapis yang harus diterima perempuan tanpa ruang untuk mengeluh.Padahal, bagi anak usia dini, ketangguhan ibu yang lahir dari luka batin bukanlah kabar baik. Anak tidak hanya tumbuh dari gizi dan stimulasi, tetapi juga dari rasa aman emosional yang ia rasakan setiap hari.Dalam hal ini, rasa aman sangat ditentukan oleh kondisi psikologis orang dewasa terdekatnya, terutama ibu.Selama lebih dari sepuluh tahun mendampingi kelas-kelas pengasuhan, Beatrix menyaksikan bahwa persoalan terbesar dalam pengasuhan bukan semata kurangnya pengetahuan orangtua, melainkan ketiadaan ruang aman bagi ibu.Ruang-ruang itu sering kali sederhana, seperti beralas tikar, kursi plastik, segelas air mineral. Namun, justru di sanalah kejujuran menemukan tempatnya.Baca juga: PAUD Bermutu, Investasi untuk Menghentikan Rantai Kemiskinan“Ibu-ibu bercerita tentang tekanan ekonomi, relasi yang memburuk dengan pasangan, kelelahan yang menumpuk, hingga rasa bersalah karena merasa gagal menjadi ‘ibu ideal’,” kata Beatrix.Anggota Early Childhood Education and Development (ECED) Council itu menyebut, sebagian ibu tertawa sambil menahan air mata, sementara yang lain menangis karena untuk pertama kalinya merasa didengarkan tanpa dihakimi.Pengalaman tersebut menunjukkan satu hal penting: ibu juga membutuhkan ruang aman untuk memulihkan diri secara emosional.Tanpa ruang aman itu, luka akan menumpuk dan berdampak pada cara ibu merespons anak.


(prf/ega)