- Di sejumlah wilayah pinggiran perkotaan, khususnya di sekitar kota-kota besar, anak usia dini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan dan pengasuhan yang layak. Taman kanak-kanak (TK) maupun kelompok bermain (KB) atau playgroup kerap dianggap sebagai layanan “mahal” yang umumnya hanya dapat dijangkau oleh keluarga kelas menengah ke atas.Sebagian anak dinilai beruntung jika dapat mengakses layanan pos pelayanan terpadu (posyandu), membawa pulang Kartu Menuju Sehat (KMS), dan menerima makanan tambahan. Namun, faktanya masih banyak anak yang luput dari layanan dasar tersebut.“Banyak anak di wilayah pinggiran kota bahkan tidak tercatat secara administratif sebagai warga setempat. Akibatnya, mereka luput dari berbagai layanan dasar yang seharusnya menjadi haknya sejak lahir,” ujar Direktur Yayasan Langit Biru Cantigi sekaligus anggota ECED Council Indonesia JF Suliestyowati dalam keterangan resminya, Senin .Baca juga: Hari Anak Balita Nasional, Fahira Idris Minta Pemerintah Perhatikan Gizi hingga Layanan DasarIa menyebut, anak-anak itu sering kali berasal dari keluarga pengontrak musiman, pendatang, atau keluarga yang tinggal menumpang, sehingga tidak tercatat sebagai warga rukun tetangga (RT) maupun rukun warga (RW). Mereka tumbuh di kawasan yang kerap terabaikan, seperti di sekitar tempat pembuangan sampah, bantaran kali, terminal, bahkan area pemakaman. “Dalam kondisi seperti ini, hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal menjadi sangat rentan terabaikan,” jelas Suliestyowati.Dalam keseharian keluarga di wilayah pinggiran perkotaan, anak-anak tumbuh di tengah tekanan yang sering kali tidak kasatmata.Ruang bermain sempit, hunian padat, orangtua yang harus bekerja dalam waktu panjang untuk bertahan hidup, serta minimnya interaksi berkualitas antara orangtua dan anak menjadi bagian dari realitas sehari-hari.Baca juga: Potret Hunian Padat di Tanah Tinggi, Warga Tidur di Balai RW karena Rumah SempitBanyak anak menghabiskan waktu sendirian, diasuh secara bergantian, atau tumbuh tanpa stimulasi yang memadai. Hal ini terjadi bukan karena orangtua yang abai, melainkan keterbatasan situasi.“Ketika orangtua harus bekerja dari pagi hingga malam untuk sekadar bertahan hidup, interaksi hangat dengan anak sering kali menjadi kemewahan. Padahal, justru di masa inilah anak paling membutuhkan kehadiran emosional orang dewasa,” kata Suliestyowati.Dalam kondisi seperti ini, layanan dasar yang tersedia kerap berhenti pada aspek pemenuhan fisik, seperti penimbangan berat badan, pencatatan KMS, dan pemberian makanan tambahan. Menurut Suliestyowati, seluruh layanan tersebut penting, tetapi belum menyentuh kebutuhan anak secara menyeluruh.Baca juga: Mengekpresikan Emosi Termasuk Kebutuhan Anak, Orangtua Wajib IngatPasalnya, anak tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat, melainkan juga dukungan emosional, stimulasi perkembangan, rasa aman, serta kesempatan untuk belajar melalui permainan dan interaksi.“Anak bukan sekadar objek layanan gizi. Mereka adalah individu yang utuh, memiliki emosi, rasa ingin tahu, serta kebutuhan untuk merasa aman dan dihargai,” tegas Suliestyowati.
(prf/ega)
Menguatkan PAUD, Menciptakan Ruang Aman Anak Usia Dini
2026-01-11 23:31:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:21
| 2026-01-11 23:10
| 2026-01-11 22:47
| 2026-01-11 22:15
| 2026-01-11 21:57










































