JAKARTA, – Sekitar 6.300 pemulung menggantungkan hidupnya di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.Mereka tergabung dalam Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Komcad Bantargebang dan berasal dari berbagai daerah, mulai dari Indramayu, Madura, Cirebon, Kalimantan, hingga Sulawesi."Asal daerah pemulung dari Indramayu, Madura, Cirebon, Kalimantan, Sulawesi juga ada," ucap salah satu pengurus IPI, Andi (34), saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat .Andi mengatakan, banyak pemulung memilih Bantargebang karena kesulitan mencari pekerjaan lain di kampung halaman. Mereka mengais sampah dengan harapan bisa menjualnya kembali untuk bertahan hidup.Baca juga: Gas Metana hingga Bau Menyengat, Tekanan Lingkungan TPST Bantargebang Kian BeratSetiap hari, ribuan pemulung menyusuri gunungan sampah setinggi 70 meter, terutama mencari plastik karena susah terurai dan memiliki nilai jual tinggi. Ketika sudah terkumpul, limbah plastik dijual ke pengepul seperti Andi."Kami beli plastik ada yang Rp 450 perak sampai Rp 700 per kilo. Itu biaya angkut dan sortir tanggungan saya, mereka (pemulung) hanya cari," jelas Andi.Plastik tersebut kemudian dicuci, disortir, dikeringkan, dan dijual ke distributor untuk didaur ulang menjadi bangku, palet, dan produk lainnya. Dalam satu hari, usaha pengepul ini bisa mengurangi tumpukan sampah plastik sekitar tiga hingga empat ton.Meskipun begitu, pemilahan sampah oleh pemulung dan pengepul belum sebanding dengan jumlah sampah yang masuk.Setiap hari, TPST Bantargebang menerima sekitar 7.000 ton sampah dari Jakarta. Tidak mengherankan jika tumpukan sampah tetap tinggi meski usaha pengurangan terus dilakukan.Baca juga: Bantargebang Diprediksi Bertahan 6 Tahun Lagi, BRIN Usulkan Enam Strategi/ SHINTA DWI AYU Pengepul limbah plastik bernama Andi (34) di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.Di tengah peranannya yang tidak hanya memberi keuntungan ekonomi tetapi juga mengurangi beban TPST, para pemulung dan pengepul merasa diabaikan pemerintah."Yang jelas kami pengin setara sama buruh diakui sama pemerintah, sampai sekarang pemulung dianaktirikan tak pernah diakui pemerintah," ujar Andi.Kesetaraan yang dimaksud Andi bukan soal gaji, melainkan jaminan sosial dan kesehatan, seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.Pasalnya, kata Andi, pemulung dan pengepul sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk bertahan hidup.Menurut Andi, sudah seharusnya para pemulung di Bantargebang bisa mendapat jaminan sosial dan kesehatan karena pekerjaan mereka yang paling berisiko.
(prf/ega)
Di Balik Gunungan Sampah Bantargebang, 6.300 Pemulung Bertaruh Nyawa Demi Hidup
2026-01-11 14:57:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 14:14
| 2026-01-11 13:55
| 2026-01-11 13:45
| 2026-01-11 13:08
| 2026-01-11 13:06










































