IHSG Pagi Dibuka Menguat Tembus Level 8.412

2026-01-12 02:36:53
IHSG Pagi Dibuka Menguat Tembus Level 8.412
JAKARTA, - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak tipis di zona hijau pada awal perdagangan Kamis .Indeks tercatat menguat 0,04 persen atau 3,13 poin ke posisi 8.391,70, setelah dibuka di level 8.412,83.Sepanjang sesi awal, IHSG sempat menyentuh level tertinggi pada 8.418,16, sebelum berbalik terkoreksi dan bergerak di kisaran 8.389-8.408.Volume transaksi mencapai 6,34 miliar saham, dengan nilai perdagangan sekitar Rp 2,73 triliun.Baca juga: IHSG Bakal Lanjut Menguat? Simak Rekomendasi Saham Hari IniAktivitas pasar berlangsung cukup aktif, tecermin dari 432.476 kali frekuensi transaksi.Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 282 saham menguat, sementara 200 saham melemah, dan 198 saham tidak berubah.Sebelumnya, IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan berpeluang menguat, setelah pada sesi sebelumnya ditutup naik 0,26 persen ke level 8.388,56.Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan IHSG masih berada dalam fase penguatan sebagai bagian dari wave (iii) dari wave [iii].Kondisi ini membuka ruang bagi indeks untuk bergerak menuju area 8.487-8.539.“IHSG masih berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii], sehingga IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 8.487-8.539. Cermati area 8.279-8.332 sebagai area koreksi berikutnya. Support: 8.332, 8.276 dan Resistance: 8.488, 8.532,” ujar Herditya dalam analisis hariannya.Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan IHSG hari ini berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.310-8.410.“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.310-8.410,” katanya.Menurutnya, sejumlah isu internasional mulai dari hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok hingga pergerakan inflasi India memengaruhi arah pasar.Pasar global sempat diwarnai kekhawatiran setelah Tiongkok belum juga merealisasikan pembelian kedelai dari Amerika Serikat, meski kedua negara sebelumnya menyepakati komitmen perdagangan pada tahun pertama kerja sama.Tidak adanya pembelian ini menimbulkan kekhawatiran lanjutan di kalangan investor bahwa ketidakpastian hubungan dagang kedua negara dapat kembali meningkat.


(prf/ega)