JAKARTA, - Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Da’i Bachtiar menilai, fenomena pelaku anak dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta jauh lebih berbahaya dibanding ancaman terorisme konvensional.Menurut Da’i, ancaman terorisme di masa lalu masih bisa diidentifikasi karena memiliki organisasi, tujuan, dan jaringan yang jelas.Namun, kasus terbaru yang melibatkan pelajar justru menunjukkan bentuk ancaman baru yang sulit dideteksi, karena muncul dari lingkungan terdekat masyarakat."Kalau teroris jelas organisasinya kita bisa membongkar, bisa tahu. Kalau yang ngebom anak-anak kita sendiri, yang tidak punya motivasi apa-apa, akan bisa dilakukan berbagai tempat dan kapan bisa terjadi, itu yang paling bahaya," kata Da'i Bachtiar, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu .Baca juga: Dinas PPAPP DKI Beri Pendampingan Psikologis bagi Siswa dan Guru SMAN 72 JakartaDa’i mengingatkan, kasus ledakan SMAN 72 seharusnya menjadi pelajaran penting bagi seluruh lapisan masyarakat.Ia menilai, penanganan ancaman seperti ini tidak cukup hanya diserahkan kepada aparat penegak hukum atau pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk keluarga dan lingkungan sekitar."Itu menjadi tantangan bukan hanya aparat negara, bukan hanya pemerintah yang menyelesaikan, tapi kita semua terpanggil untuk menyelesaikan karena bahaya itu ada lingkungan keluarga kita sendiri," ujar dia.Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi aksi teror, mulai dari bom di tempat ibadah, kantor pemerintahan, hingga tragedi Bom Bali.Namun, ancaman dari dalam rumah tangga sendiri, kata dia, merupakan bentuk bahaya baru yang lebih sulit diantisipasi.Da’i menilai, keberhasilan Indonesia menekan ancaman terorisme melalui pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan program deradikalisasi menjadi contoh penting.Baca juga: PPAPP DKI Beri Psikoedukasi Digital bagi Siswa SMAN 72 Jakarta PascaledakanNamun, ia menekankan bahwa ancaman baru yang melibatkan anak-anak tidak bisa diatasi dengan pendekatan yang sama."Kalau seperti ini jelas kita bisa atasi. Kalau anak-anak kita yang melakukan, itu jadi bahaya. Maaf kalau saya berbeda pendapat dengan yang lain, 'Oh aman sudah situasi enggak apa-apa, anak-anak saja'. Bukan ya, ini lebih bahaya," terang dia.Diberitakan sebelumnya, ledakan terjadi pada Jumat sekitar pukul 12.15 WIB di lingkungan SMAN 72 Jakarta yang berada di kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut, Kelapa Gading.Berdasarkan keterangan saksi, letusan pertama terdengar saat khotbah Jumat sedang berlangsung, disusul ledakan kedua dari arah berbeda.Baca juga: Menkes Pastikan Beri Penanganan Trauma Korban Ledakan SMAN 72 JakartaPeristiwa tersebut menyebabkan puluhan korban mengalami luka bakar dan luka akibat serpihan, serta menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.Dari hasil penyelidikan awal, pelaku diduga merupakan salah satu siswa sekolah tersebut. Beberapa pihak ada yang menyebut bahwa pelaku juga sempat mendapat bullying di sekolah.
(prf/ega)
Lebih Bahaya dari Terorisme, Da’i Bachtiar Soroti ABH di Kasus Ledakan SMAN 72
2026-01-12 04:01:24
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:04
| 2026-01-12 03:19
| 2026-01-12 03:05
| 2026-01-12 01:53
| 2026-01-12 01:50










































