JAKARTA, -Pelaku ritel dan pengelola pusat perbelanjaan menilai konsumsi masyarakat mulai bergerak menjelang libur Natal dan Tahun Baru.Daya beli dinilai belum kembali normal sehingga dukungan kebijakan jangka panjang masih dibutuhkan.Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyebut konsumsi memang naik.Ia menilai tren ini belum cukup kuat untuk membentuk pemulihan yang solid. Menurut dia, berbagai stimulus pemerintah membantu tetapi belum terstruktur."Ada pertumbuhan tetapi belum pulih normal sepenuhnya. Pemerintah kan banyak memberikan fasilitas, insentif, stimulus dan sebagainya. Tetapi kan kami melihatnya sifatnya lebih sporadis dan juga bukan program yang berkelanjutan," kata Alphonzus di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat .Baca juga: Pemerintah Siapkan Strategi Dongkrak Daya Beli Kelas Menengah Tahun DepanAlphonzus menilai kebijakan sesaat seperti diskon tiket pesawat atau transportasi belum cukup mendorong permintaan secara stabil.Ia mencontohkan penurunan harga tiket pesawat yang dilakukan secara konsisten bisa meningkatkan mobilitas.Mobilitas yang meningkat akan menggerakkan hotel, makanan-minuman, dan transportasi. Ia menilai kebijakan seperti ini lebih berdampak dibanding stimulus yang hanya menambah sisi pasokan, termasuk likuiditas sektor keuangan.Menurut Alphonzus, penciptaan permintaan menjadi kunci menguatkan konsumsi domestik. Ia melihat dampaknya akan terasa langsung di pusat perbelanjaan menjelang masa puncak belanja akhir tahun.Ketua Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menilai Indonesia masih tertinggal dalam menarik segmen belanja kelas atas. Ia menyebut harga dan variasi produk di Indonesia belum sekompetitif Malaysia.“Makanya 11 persen dulu kita dorong karena ada potongan,” ujar Budihardjo merujuk pada insentif VAT refund bagi wisatawan asing.Baca juga: BI Tegaskan Redenominasi Tak Ubah Daya Beli, Ekonom Ingatkan Risiko TransisiBudihardjo menyebut tidak banyak gerai yang tutup. Ia menjelaskan sebagian besar penyewa menyesuaikan strategi dengan memperbesar penjualan di kanal online."Sekitar 30 persen anggota ritel disebut telah memperbesar operasi di platform online untuk menjaga penjualan tetap stabil," ungkapnya.Untuk segmen barang mewah, Budihardjo menilai kondisinya berbeda. Ia menyebut tidak ada gerai kelas atas yang tutup. Permintaannya tinggi hingga ruang di pusat perbelanjaan menjadi terbatas.
(prf/ega)
Jelang Akhir Tahun, Pengusaha Mal Nilai Daya Beli Membaik tapi Belum Pulih Penuh
2026-01-12 03:50:03
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:42
| 2026-01-12 03:52
| 2026-01-12 03:28
| 2026-01-12 02:37










































