Kisah Nenek di Tapteng, Harus Merawat Cucu yang Kehilangan Orangtua Imbas Banjir

2026-01-11 15:16:54
Kisah Nenek di Tapteng, Harus Merawat Cucu yang Kehilangan Orangtua Imbas Banjir
MEDAN, – Rasa trauma masih menyelimuti warga terdampak banjir dan longsor di Dusun III, Desa Bonandolok, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.Musibah tersebut tidak hanya menghancurkan rumah warga, tetapi juga merenggut nyawa.Trauma mendalam dirasakan Ompung Jihan boru Hutagalung, yang kehilangan anak dan menantunya akibat tertimbun longsor saat berada di dalam rumah pada Selasa .“Saya kehilangan anak dan menantu. Mereka itu punya anak satu, ini lah cucu saya masih bersia satu tahun. Masih menyusui,” kata Ompung Jihan sambil menangis saat ditemui di Dusun III, sembari menggendong cucunya, Jumat .Baca juga: Curhat Pilu Pengungsi Tapanuli Selatan ke Bobby Nasution: Rumah Habis, Tak Tahu Mulai dari ManaPerempuan berusia 50 tahun itu menceritakan detik-detik sebelum anak dan menantunya tertimbun longsor.Saat itu, anaknya baru saja membantu warga lain yang terdampak longsor dan pulang ke rumah untuk membersihkan diri.Sebelum sampai ke rumah, menantunya sempat memanggil suaminya untuk makan karena makanan sudah disiapkan ibu mertuanya.“Istrinya mengajak makan ke rumah karena mamak ada masak super mie. Ah, makan dulu kau bilang, orang baru memegang orang mati, mandi dulu lah,” ujar Ompung Jihan, menirukan percakapan anak dan menantunya.Usai percakapan itu, sang suami pergi ke rumah untuk mandi. Tidak lama kemudian, ia memanggil istrinya agar datang ke rumah. Menantunya pun berpamitan untuk menyusul suaminya.“Setelah sampai menantu saya, jatuhnya lah tanah itu dari atas menimpa rumah. Kejadiannya sekitar jam 6 sore. Seminggu kemudian baru ditemukan,” ucap Ompung Jihan sambil mengusap air matanya.Baca juga: Tiga Pekan Pascabanjir, Pengungsi Tapanuli Tengah Butuh Susu Balita dan Seragam SekolahIa mengatakan, wilayah tersebut sebelumnya tidak pernah mengalami banjir maupun longsor. Musibah itu membuat warga diliputi ketakutan dan trauma.“Longsor semua, jadi ketakutan lah kami, trauma kami. Jadi nggak nyaman kami di tempat ini. Kalau bisa permintaan kami sama pemerintah, dibangunlah tempat kami yang aman, biar bisa kami terbantu hidup nyaman,” pintanya.Ompung Jihan menambahkan, cucunya bisa selamat karena sebelum longsor terjadi, balita tersebut sudah dibawa orang tuanya ke rumah sang ompung sekitar pukul 16.00 WIB saat hujan deras mulai turun.“Enggak ada lagi bapak dan mamaknya, padahal anaknya masih menyusui. Saat ini saya fokus dulu urus cucu saya,” tuturnya.Baca juga: Pascabanjir dan Longsor Tapteng Sumut, Masinton Pasaribu Larang Warga Tanam Kelapa SawitSementara itu, Kepala Urusan Desa Bonandolok, Yospi Aritonang, mengatakan sekitar 12 unit rumah mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor, dengan jumlah korban jiwa sebanyak empat orang.


(prf/ega)