— Tujuh bulan setelah kepergian sang suami, Najwa Shihab menuliskan sebuah catatan yang sunyi namun menggetarkan.Lewat unggahan Instagram bertajuk #CatatanNajwa, jurnalis senior itu membagikan refleksi personal tentang duka, ketahanan, dan seni untuk tetap melangkah tanpa kehilangan makna.Baca juga: Najwa Shihab Kenang 40 Hari Kepergian Ibrahim Sjarief Assegaf Bukan ratapan, bukan pula pengumuman. Tulisan Najwa mengalir seperti bisikan yang jujur—tentang bagaimana kesedihan tak selalu meledak, tetapi justru menetap, menyatu dalam cara seseorang bergerak dan menjalani waktu.“Saya terus kembali pada gambaranmu di Gunung Everest,” tulis Najwa, dikutip Senin , menggambarkan sosok suaminya bukan dari pencapaian tertinggi, melainkan dari ketertarikannya pada usaha, jarak, dan ketenangan yang datang setelah segalanya diberikan.Baca juga: Unggah Foto Najwa Shihab di Tujuh Hari Kepergian Ibrahim Sjarief, Meutya Hafid: Sahabat Kami KuatGunung Everest, bagi Najwa, bukan sekadar simbol ketinggian, melainkan metafora tentang watak: ketenangan yang diperoleh dengan susah payah.Dalam unggahannya, Najwa Shihab turut memposting foto suaminya saat mendaki pegunungan Everest.Baca juga: Dulu Dikuatkan Suami Saat Anak Kedua Meninggal Dunia, Najwa Shihab: Gue Takut Enggak Bisa Berhenti NangisDalam tulisannya, Najwa mengakui, hidup tidak berhenti ketika seseorang yang dicintai pergi. Hari-hari tetap menuntut keputusan. Tanggung jawab tak berkurang. Dan di sanalah, kata Najwa, ia belajar disiplin untuk tetap berdiri.“Kejutan itu tidak lagi mencengkeram,” tulisnya. Kesedihan tidak hilang, tetapi berubah bentuk—hidup di dalam hari-hari, menandai cara ia bergerak, berhenti, dan melanjutkan hidup.Baca juga: Adik Kenang Sosok Mendiang Suami Najwa Shihab: Jauh dari Sifat SombongIa menegaskan dirinya bertahan bukan karena tidak merasakan kehilangan, melainkan karena masih ada hal-hal yang harus dijaga. Beban itu, ia lipat dengan hati-hati, lalu melangkah lagi.“Aku memikul apa yang harus dipikul. Aku memikulmu. Keduanya, tanpa pertunjukan.”Kalimat-kalimat tersebut langsung menyentuh banyak warganet, terutama mereka yang memahami bahwa kekuatan sering kali hadir dalam bentuk paling sunyi.Baca juga: Pernah Kehilangan Anak 4 Jam Setelah Dilahirkan, Najwa Shihab: Kepedihannya Menurut Gue SamaSuami Najwa Shihab, Ibrahim Sjarief Assegaf, meninggal dunia pada Selasa, 20 Mei 2025, pukul 14.29 WIB di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), Jakarta Timur. Ia wafat akibat stroke yang menyebabkan pendarahan di otak.Ibrahim Sjarief dimakamkan keesokan harinya, Rabu, 21 Mei 2025, di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Ia meninggal dunia dalam usia 54 tahun.Baca juga: Lulusan Luar Negeri, Ini Sosok Putra Najwa Shihab yang Pilih Kerja di IndonesiaLahir di Semarang pada 8 April 1971, Ibrahim dikenal luas sebagai pengacara dan aktivis hukum yang berdedikasi. Ia merupakan salah satu pendiri Hukumonline, serta menjabat sebagai Managing Partner di firma hukum Assegaf Hamzah & Partners.Selain kiprahnya di dunia hukum, Ibrahim juga tercatat sebagai komisaris Narasi, perusahaan media yang didirikan Najwa Shihab.Baca juga: Kini Satu Liang Lahad dengan Ibrahim, Putri Najwa Shihab Meninggal Dunia 4 Jam Setelah DilahirkanCatatan Najwa Shihab bukan sekadar ungkapan kehilangan, melainkan potret duka yang telah tumbuh dewasa—tidak meledak-ledak, tidak pula dipamerkan. Ia hadir sebagai kesadaran bahwa hidup harus tetap berjalan, meski pusat gravitasinya telah berubah.“Kau tahu bahwa apa yang disebut kekuatan adalah seni untuk terus maju,” tulis Najwa.Dan barangkali, di sanalah letak kekuatan tulisan ini: tidak berusaha menguatkan, tetapi justru mengizinkan pembaca merasakan—bahwa bertahan pun adalah sebuah bentuk cinta.A post shared by Najwa Shihab (@najwashihab)
(prf/ega)
Tujuh Bulan Setelah Kepergian Suami, Najwa Shihab Bagikan Catatan Duka yang Hening
2026-01-11 22:43:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:45
| 2026-01-11 22:17
| 2026-01-11 21:30










































