Jakarta - Ketika negara oleh banyak pihak dianggap sedang tidak baik-baik saja, tiba-tiba penulis mendapat bacaan baru yang disampaikan oleh Dandhy Dwi Laksono dan kawan-kawan melalui bukunya yang baru: Reset Indonesia. Buku itu adalah hasil perjalanan mereka keliling Indonesia sebanyak tiga kali, pada tahun 2009, 2015, dan 2022. Dari perjalanan keliling Indonesia sudah menghasilkan beberapa film dokumenter, kali ini dalam bentuk buku. Mereka adalah empat generasi yakni Farid Gaban (Gen Boomer), Dandhy Dwi Laksono (Gen X), Yusuf Priambodo (Gen Milenial) dan Benaya Harobu (Gen Z).Membaca buku Reset Indonesia ini, selain mendapatkan potret suasana Indonesia, juga mendapat potret utuh mengenai sosiologi, budaya, dan ketimpangan ekonomi yang terjadi di daerah. Membacanya jadi terasa emosional, perasaan teraduk-duk. Hasilnya, sedih. Dengan gaya bahasa dan kemampuan bertutur disertai komparasi, analogi, serta literasi yang komprehensif, buku ini bisa membuat pembaca marah, sedih, dan terprovokasi (bila tak disebut terhasut). Karena banyak kekayaan di Indonesia yang ternyata belum menyejahterakan rakyatnya menjadi adil dan makmur sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UU 1945, malah akan membuat marah untuk kemudian protes pada penguasa negeri ini dalam melakukan tata Kelola Indonesia. Buku ini menggugah kesadaran dan mengajak pembaca untuk melihat Indonesia dari seluruh penduduk atau wilayah negeri, untuk membangkitkan semangat membangun Indonesia yang carut-marut ini mulai dari nol.Dari bacaan tersebut, kita tentu boleh beradai-andai, bahwa semestinya kita ini negara yang kaya-raya. Bukan sekadar karena ada lagunya Koes Plus yang menyampaikan tongkat kayu dan batu jadi tanaman, tapi dalam sejarah memang kekayaan Indonesia (Nusantara atau Hindia Belanda) adalah sangat menggiurkan. Tak heran bila Belanda, tepatnya VOC (korporasi), kerasan sampai 3,5 abad menguasai jajahannya. Apa yang menarik bagi Belanda, tak lain rempah-rempah dan sumber alam lainnya.AdvertisementMari sekarang kita mencoba menguji kawan-kawan, untuk menanyakan: Tahukah Anda di mana Singapura, dan di mana Manhattan? Mungkin dianggap pertanyaan bodoh. Karena, hampir pasti sudah banyak yang tahu dan paham bahkan sering ke Singapura yang begitu majunya Begitu juga Manhattan, mesti belum tentu pernah ke sana karena jauh, tapi banyak yang tahu bahwa itu kota metropolitan yang menjadi pusat kota dari New York, Amerika. Manhattan adalah bagian kota yang membentuk New York, seperti halnya wilayah Bronx, Queens, State Island, atau Brooklyn.Nah pertanyaan lanjutannya, tahukah Anda di mana Pulau Run di Indonesia? Pulau kecil yang berada di wilayah Lautan Banda (tempat Wapres Hatta dan PM Sjahrir dibuang Belanda sebelum kemerdekaan)? Bisakah membayangkan bahwa Pulau Run itu ada di selatan Ambon? Di saat pelajaran geografi dan peta yang semakin dimanjakan google map, pengetahuan itu memang kurang, namun bisa ditelusuri. Meski mendengarnya asing.Begitu juga Bengkulu. Meski tak sesusah Pulau Run, Bengkulu karena posisinya sebagai daerah provinsi dan tempat lahirnya Ibu Fatmawati Soekarno, maka masih mudah dibayangkan. Meski belum banyak tahu bahwa provinsi Bengkulu adalah provinsi yang memiliki garis laut yang panjang sama dengan garis daratnya. Karena model wilayahnya membujur dari utara ke selatan di wilayah barat Sumatera bagian Selatan. Bengkulu berbatasan dengan banyak provinsi, mulai dari provinsi Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung di selatan. Bila dibandingkan dengan negara di dunia, misal seperti negara Chile yang garis pantainya sepanjang daratannya. Memanjang.
(prf/ega)
OPINI: Pulau Run dan Bengkulu, Cermin Lemahnya Tata Kelola Negara
2026-01-11 03:52:43
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:58
| 2026-01-11 03:19
| 2026-01-11 03:15
| 2026-01-11 02:12










































