Kemendikdasmen Sebut Lama Tanpa Ujian Nasional, Mental Siswa Jadi Tidak Terlatih

2026-01-11 04:02:04
Kemendikdasmen Sebut Lama Tanpa Ujian Nasional, Mental Siswa Jadi Tidak Terlatih
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai saat ini anak muda Indonesia mentalnya sudah tidak lagi terlatih untuk menjalani ujian skala nasional.Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan, hal itu disebabkan selama beberapa tahun terakhir tidak ada Ujian Nasional (UN)."Setelah beberapa tahun kita tanpa asesmen berskala nasional, mungkin bisa dilihat banyak siswa yang tidak lagi terlatih secara mental menghadapi ujian ini," kata Toni dikutip dari akun YouTube Tv Parlemen, Kamis .Ujian yang dimaksud Toni dihadapi siswa belakangan ini adalah Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar pada awal November 2025.Baca juga: Kemendikdasmen Pertimbangkan Ubah Nama Mapel Bahasa IndonesiaPada pelaksanaan TKA, Toni menilai mental siswa tidak terlatih untuk berlaku secara jujur pada tekanan yang terjadi di dunia nyata."Sebetulnya mereka (siswa) cerdas. Tapi belum semua terbiasa bertanding dengan jujur dalam tekanan yang nyata," ujarnya.Terkait soal-soal TKA, lanjut Toni, pihaknya mengaku sudah merancangnya secara berjenjang baik di tingkat pusat dan daerah untuk mengukur aspek knowing, applying, dan reasoning.Selain itu, soal-soal TKA juga berupaya untuk mengukur kemampuan penalaran berpikir antara konsep pembelajaran dan kehidupan nyata.Baca juga: Kemendikdasmen: Guru Berperan Penting untuk Bentuk Karakter dan Kewarganegaraan Pelajar"Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran menghasilkan pemahaman yang bermakna dan fungsional. Bukan sekadar penguasaan prosedural," ungkapnya.DOK. PERKUMPULAN STRADA Ilustrasi siswa SMA dan SMK di bawah naungan Perkumpulan Strada.Toni kemudian mencontohkan lemahnya kemampuan penalaran yang dimiliki siswa Indonesia. Pada materi uji matematika, kata Toni, siswa Indonesia tidak mampu untuk melakukan penalaran soal dengan baik.Penalaran yang dimaksud seperti penggunaan soal-soal cerita yang tidak langsung ke poin pertanyaan."Pembelajaran matematika misalnya, tantangan murid kita sering kali bukan pada kompleksitas materi. Melainkan pada kemampuan mentransformasikan masalah kompleksitas materi," tuturnya.Ditambah kemampuan mentransformasikan masalah kontekstual ke dalam ke dalam model atau persamaan matematika.Menurut Toni, masalah ini sangat terkait dengan kemampuan literasi dan numerasi siswa-siswa Indonesia.Baca juga: Dosen Sastra Indonesia Fida Dapat Beasiswa S3 ke Austria Berkat Riset Bahasa dan AIOleh karena itu, pemerintah tambah Toni, telah membuat kebijakan pembelajaran mendalam atau deep learning agar siswa bisa lebih memahami pelajaran dan bisa menerapkan ke kehidupan nyata."Sehingga peserta didik tidak hanya memahami apa yang dipelajari. Tetapi juga mampu memanfaatkan pengetahuan tersebut secara efektif untuk menjawab tantangan dunia nyata," pungkas Toni.


(prf/ega)