- Banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak hanya merusak permukiman warga tetapi juga menyisakan tumpukan material kayu yang menghalangi akses.Untuk menjangkau area yang tak bisa dilalui alat berat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menurunkan empat gajah terlatih sebagai bagian dari operasi darurat banjir Sumatera.Empat gajah Abu, Mido, Ajis, dan Noni dibawa bersama para mahout untuk membersihkan puing di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua.“Gajah terlatih yang kita bawa ini sebanyak empat ekor,” ujar Kepala KSDA Wilayah Sigli, Hadi Sofyan dikutip dari Kompas.com, Selasa .Ia menjelaskan bahwa satwa tersebut ditugaskan di titik-titik terdampak yang sulit dijangkau alat berat.Fenomena gajah dikerahkan untuk bantu bersihkan kayu gelondongan pascabanjir ini langsung menjadi sorotan publik, terutama terkait apakah praktik tersebut selaras dengan prinsip kesejahteraan satwa.Lantas, bagaimana pandangan para ahli hewan dan pakar satwa mengenai batas aman dan etika penggunaan gajah dalam situasi darurat semacam ini?Baca juga: Satu-satunya Gajah di Delhi India Mati, Ternyata akibat Virus Langka dari TikusAhli hewan Universitas Gadjah Mada, Slamet Raharjo, menjelaskan bahwa penggunaan gajah sebagai tenaga bantu bukanlah hal baru di sejumlah negara Asia.“Gajah di beberapa negara Asia dan Asia Tenggara sudah dijinakkan dan dimanfaatkan tenaganya, mulai untuk hewan tunggang hingga pekerja dan pertunjukan,” ujarnya saat dimintai tanggapan Kompas.com, Selasa .Menurutnya, praktik tersebut tetap sejalan dengan prinsip kesejahteraan satwa selama dilakukan secara wajar dan mengikuti lima prinsip kebebasan hewan.Dalam konteks bencana alam, penggunaan gajah dinilai dapat dibenarkan ketika akses peralatan modern tidak memungkinkan.“Pada kondisi bencana, penggunaan tenaga hewan diperbolehkan dengan pengawasan ketat agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan,” kata Slamet.Selama beban tidak melampaui kemampuan fisik hewan, ia menyebut tidak ada temuan ilmiah yang menunjukkan dampak negatif signifikan.Baca juga: Bukan Gajah, Lalat Jadi Hewan dengan Sperma Terpanjang di Bumi, Capai 20 Kali Panjang TubuhnyaIRWANSYAH PUTRA Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang ditunggangi mahout bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan personel Polri membersihkan puing kayu yang menutupi jalan dan permukiman warga akibat bencana alam di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh, Senin . BKSDA Aceh mengerahkan empat ekor gajah jinak untuk membantu membersihkan puing kayu yang menutupi rumah penduduk pascabencana banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nz. Lingkungan pascabencana memang rawan memicu stres atau cedera, namun Slamet menekankan bahwa risiko tersebut lebih rendah pada gajah yang sudah terlatih.
(prf/ega)
Gajah Kerja Pascabanjir Sumatera, Apakah Etis? Ahli: Jangan Sampai Jadi Eksploitasi
2026-01-11 03:27:22
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:48
| 2026-01-11 03:02
| 2026-01-11 02:24
| 2026-01-11 01:48
| 2026-01-11 01:47










































