5 Alasan Kelas Menengah Sulit Naik Kelas ke Golongan Atas

2026-01-11 23:31:24
5 Alasan Kelas Menengah Sulit Naik Kelas ke Golongan Atas
JAKARTA, – Pertanyaan mengapa orang miskin tetap miskin dan mengapa kelas menengah sulit naik ke kelas atas terus muncul di tengah ketimpangan ekonomi yang semakin terasa.Kondisi ini dipengaruhi hambatan struktural, akses terbatas terhadap sumber daya, serta pola pikir finansial yang berbeda antara kelas menengah dan kelas atas.Dua sudut pandang ini, gaya hidup dan cara berpikir kelompok berpendapatan stabil serta faktor sistemik yang memengaruhi kemiskinan, menunjukkan pola yang sama: mobilitas ekonomi berjalan lambat.Baca juga: 5 Cara Berpikir Orang Kaya yang Tak Dipakai Kelas MenengahDikutip dari pemberitaan Kompas.com sebelumnya, berikut lima alasan yang membuat kelas menengah sulit naik kelas.Selama ini banyak orang percaya bahwa rajin menabung adalah cara menjadi kaya. Namun, kelompok kelas atas justru fokus menambah pemasukan.Mereka terus mencari cara menambah pendapatan, entah melalui bisnis, investasi, atau menambah sumber penghasilan lain yang dapat memperbesar aliran kas.Cara pandang ini kontras dengan kebiasaan kelas menengah yang lebih nyaman menumpuk simpanan dibanding mengejar peluang baru.Kelas atas juga lebih berani mengambil risiko terukur. Mereka tidak segan menempatkan uang pada instrumen investasi yang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar. Banyak dari mereka menjalankan bisnis dengan skala yang lebih besar dan prospektif, seperti properti.Baca juga: Pemerintah Siapkan Strategi Dongkrak Daya Beli Kelas Menengah Tahun DepanMereka memandang risiko sebagai bagian dari proses pertumbuhan finansial, bukan ancaman yang harus dihindari. Keberanian ini yang membuat pertumbuhan kekayaan mereka lebih cepat.Sementara itu, kelas menengah cenderung berhati-hati. Alih-alih mengejar pemasukan tambahan, mereka sering terjebak pada kekhawatiran tentang risiko kerugian.Ketakutan tersebut membuat mereka sulit mengambil langkah besar, misalnya memulai usaha atau masuk ke instrumen investasi yang potensial.Dalam jangka panjang, pola ini menghambat mobilitas ekonomi karena kenaikan pendapatan tidak berjalan secepat kebutuhan finansial yang terus meningkat.Kelas atas sering dianggap boros karena identik dengan barang mahal dan gaya hidup mewah. Padahal, perilaku konsumtif justru lebih banyak ditemukan di kelas menengah. Saat memiliki uang, mereka cenderung menghabiskannya agar terlihat sejahtera.Sebaliknya, orang kelas atas justru lebih fokus membuat uangnya bertumbuh. Mereka memilih menempatkan dana pada aset produktif yang dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang.Baca juga: 10 Alasan Orang Kaya Makin Kaya tetapi Kelas Menengah Tetap Pas-pasanDalam banyak kasus, mereka bahkan lebih sederhana dalam kehidupan sehari-hari karena memahami pentingnya mempertahankan modal untuk investasi berikutnya. Orientasi jangka panjang ini membuat kekayaan mereka terus berkembang.


(prf/ega)