Kardinal Suharyo Sebut Uang dan Keserakahan Jadi “Berhala Baru” di Kehidupan Modern

2026-01-11 04:03:54
Kardinal Suharyo Sebut Uang dan Keserakahan Jadi “Berhala Baru” di Kehidupan Modern
JAKARTA, – Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menilai uang dan keserakahan telah menjelma menjadi “berhala baru” dalam kehidupan modern, menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang seharusnya menjadi pegangan hidup bersama.Pandangan tersebut disampaikan Suharyo usai memimpin Misa Pontifikal Natal 2025 di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, Kamis .Ia menilai kecenderungan memuja uang dan kekuasaan tercermin dari maraknya praktik korupsi hingga kerusakan lingkungan yang terus berulang.Baca juga: Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa“Berhala hari ini bukan lagi batu atau pohon, melainkan uang dan keserakahan,” kata Suharyo.Ia menjelaskan, ketika manusia tidak lagi memuliakan Tuhan, tujuan dasar penciptaan manusia menjadi kabur.Dalam tradisi Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah, yang seharusnya diwujudkan secara konkret melalui bakti kepada sesama.“Kalau tidak memuliakan Allah, yang dimuliakan itu diri sendiri. Saya sendiri mengalaminya. Banyak orang mengalaminya,” ujar Suharyo.Suharyo menegaskan, pertobatan tidak bisa dimaknai sebatas ritual keagamaan menjelang akhir tahun.Menurut dia, pertobatan merupakan gaya hidup yang berlandaskan iman dan tercermin dalam sikap serta tindakan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.Ia menyinggung jabatan publik yang seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan posisi untuk dinikmati demi kepentingan pribadi.Baca juga: Kardinal Suharyo: Bencana di Sumatera Butuh Solidaritas Nasional dan Pertobatan EkologisBerbagai kasus kepala daerah yang terjerat operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kata dia, menunjukkan kegagalan memahami makna amanah tersebut.“Bukan menduduki jabatan, tetapi memangku jabatan untuk kebaikan bersama,” ujar Suharyo.Atas dasar itu, ia kembali menegaskan pandangannya bahwa Indonesia membutuhkan pertobatan nasional.Pertobatan ini dimaknai sebagai upaya meluruskan kembali arah hidup berbangsa sesuai cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.“Namun, dasarnya tetap pertobatan batin, memuliakan Allah, dan membaktikan hidup bagi sesama serta tanah air,” kata Suharyo.


(prf/ega)