Indonesia Debut di 100 Presepi in Vaticano, Tampilkan Karya dari Yogyakarta

2026-01-11 22:24:00
Indonesia Debut di 100 Presepi in Vaticano, Tampilkan Karya dari Yogyakarta
VATICAN CITY, - Untuk pertama kalinya, Indonesia ambil bagian dalam The International Exhibition '100 Presepi in Vaticano', atau "100 Gua Natal di Vatikan." Peristiwa budaya ini adalah bagian rangkaian Jubilee is Culture. Pameran budaya yang diselenggarakan Dikasteri Evangelisasi ini digelar lengan kiri barisan tiang-tiang marmer karya seniman besar zaman Renaisans, Gian Lorenzo Bernini (1598 - 1680).Dalam pemeran ini ditampilkan lebih dari 132 gua Natal karya para seniman dari 23 negara, termasuk Indonesia.Baca juga: Perangko Baru Vatikan–Indonesia Diluncurkan untuk Peringati 75 Tahun Hubungan DiplomatikNegara lain yang ambil bagian antara lain Italia, Kroasia, Spanyol, San Marino, Ukraina, Irlandia, Slovenia, Hongaria, Polandia, Estonia, Jerman, Slovakia, Republik Ceko, Austria, Rusia, Amerika Serikat,  Kolombia, Taiwan, Venezuela, Filipina, Guatemala, dan Paraguay.Sejak 2018, salah satu aspek perayaan Natal Vatikan adalah pameran "100 Presepi in Vaticano".Pameran ini adalah tradisi Romawi yang ditampilkan mulai 1976, dan di masa kepausan Paus Fransiskus, pada 2018  dipindahkan ke Vatikan dan menyatukan lebih dari 100 diorama Natal dari seluruh dunia. Pameran ini menggarisbawahi apa yang dikatakan Fransiskus sebagai alasan perayaan Natal: untuk menolak "masyarakat yang begitu sering terbius oleh konsumerisme dan hedonisme, kekayaan dan kemewahan" dan untuk berfokus pada bayi Kristus, yang "memanggil kita untuk bertindak bijaksana, dengan kata lain, dengan cara yang sederhana, seimbang, konsisten, mampu melihat dan melakukan apa yang esensial."Partisipasi Indonesia lewat karya seniman Maria Tri Sulistyani dari Papermoon Puppet Theatre, Yogyakarta, menjadi momen bersejarah karena bertepatan dengan 75 tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci.Delegasi Indonesia ke The International Exhibition '100 Presepi in Vaticano' ini dipimpin oleh Nina Handoko.Melalui kehadiran di pameran instalasi nativitas bergengsi ini, Indonesia tidak hanya menampilkan kekayaan seni dan budaya, tetapi juga menegaskan peran penting diplomasi budaya dalam mempererat persahabatan antarbangsa. Papermoon menafsirkan kisah kelahiran Yesus dengan bahasa visual yang puitis dan menyentuh, menggabungkan estetika teater boneka, seni rupa, dan instalasi ruang. Dengan pendekatan yang intim dan imajinatif, Papermoon menghadirkan narasi yang relevan bagi penonton lintas usia dan lintas budaya, sekaligus membuka ruang dialog tentang kemanusiaan, harapan, dan solidaritas. Partisipasi Indonesia dalam pameran ini juga melibatkan Program Studi Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang berperan dalam pendalaman konseptual, riset budaya, serta kerangka teologis dan sosial dari karya instalasi.Melalui perspektif kajian budaya, tim Sanata Dharma membantu merumuskan bagaimana narasi Natal dapat "diterjemahkan” ke dalam konteks Indonesia—sebagai negara kepulauan yang majemuk, beragam budaya, dan berlandaskan semangat keadilan sosial. Keterlibatan kampus ini—diwakili Romo Budi Subar SJ dan Stanislaus Sunardi—sekaligus menjadi wujud kolaborasi antara dunia akademik, seniman, dan diplomat dalam kerja diplomasi budaya yang berkelanjutan. 


(prf/ega)