Kisah Perempuan Pasar Seluma, 15 Tahun Berjuang Mengusir Tambang Besi

2026-01-12 03:30:22
Kisah Perempuan Pasar Seluma, 15 Tahun Berjuang Mengusir Tambang Besi
BENGKULU, – Nevi bersama puluhan perempuan adat Desa Pasar Seluma, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma, Bengkulu, tampak sangat bahagia pada Sabtu .Mereka berjalan beriringan menuju muara sungai sambil membawa kambing yang akan disembelih sebagai bentuk nazar."Hari ini kami menyembelih dua kambing atas nazar dan bersyukur pasca pertambangan pasir besi berhenti di kampung kami," kata Nevi, yang diiyakan oleh perempuan lainnya.Pemilihan lokasi penyembelihan di muara sungai dianggap penting oleh warga karena wilayah itu selama 15 tahun menjadi pusat protes warga dan dianggap keramat."Bila tambang masih terus beroperasi, muara sungai ini sudah pasti hancur, di sini tempat kami mencari remis, ikan, dan berusaha," ujarnya.Baca juga: Diangkat Jadi PPPK, Honorer di Brebes Gendong Ayah Tunanetra Berkilometer Menuju Alun-alun Tunaikan NazarSetelah penyembelihan, warga menggelar doa sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan dan para leluhur yang diyakini ikut membantu perjuangan mereka.Nevi mengenang, pada 2010 sebuah perusahaan tambang pasir besi mulai beroperasi menggali wilayah pantai yang menjadi mata pencarian warga."Sejak kami lahir, kami mencari remis untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Remis sempat menghilang kala pertambangan beroperasi saat itu," ujarnya.Selain hilangnya remis, warga juga khawatir pesisir desa akan rusak akibat aktivitas tambang."Kampung kami berada di tepi pantai, beraktivitasnya tambang akan merusak pesisir dan kampung kami, maka kami melakukan perlawanan," kata Nevi.Berbagai aksi protes dilakukan, mulai dari demonstrasi, pendudukan tambang, hingga unjuk rasa ke pemerintah."Demo ke pemerintah, protes menduduki tambang, bersama perempuan lainnya kami lakukan bahkan hingga kami ditangkap polisi karena menduduki tambang berhari-hari," kenangnya.Menurut Nevi, perempuanlah yang menjadi garda depan. Kaum bapak justru diminta berada di rumah untuk menghindari konflik."Kami tidak mengedepankan bapak-bapak karena rawan korban. Kaum pria di desa kami sering emosional, maka mereka kami suruh di rumah saja mengurus anak dan rumah," katanya sambil terkekeh.Ia menambahkan bahwa pernah terjadi aksi protes kaum bapak yang berujung pembakaran tambang dan beberapa orang dipenjara.


(prf/ega)