38 Rumah Adat di Seluruh Provinsi Indonesia dan Penjelasannya

2026-01-11 03:43:53
38 Rumah Adat di Seluruh Provinsi Indonesia dan Penjelasannya
– Indonesia memiliki 38 provinsi dan setiap provinsi menyimpan rumah adat dengan bentuk, filosofi, dan arsitektur yang berbeda-beda.Di tengah derasnya modernisasi, rumah-rumah adat ini menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya Indonesia bukan sekadar slogan, melainkan warisan yang hidup dan terus dijaga.Dari Rumah Gadang di Sumatera Barat hingga Honai di Papua, setiap rumah adat memuat nilai sejarah, kearifan lokal, dan identitas masyarakat setempat.Daftar 38 rumah adat berikut dapat menjadi referensi belajar budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan arsitektur tradisional Indonesia.Baca juga: Apa yang Kamu Ketahui tentang Rumah Adat? Ini Penjelasannya ....Rumah adat merupakan bagunan yang memiiki ciri khusus yang disesuaikan dengan kondisi dari suatu daerah yang berfungsi sebagai tempat tinggal.Berikut urutan daftar rumah adat tradsional yang terdapat di Indonesia:Rumoh Krong Bade merupakan rumah adat masyarakat aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Rumah ini berbentuk panggung.Bagi masyarakat aceh pemilihan bentuk rumah panggung mengandung makna-makna tertentu sebagai berikut:Rumah Bolon adalah rumah adat Batak dari Sumatera Utara yang berfungsi sebagai rumah pertemuan keluarga besar.Rumah ini berbentuk rumah panggung dengan atap menyerupai pelana kuda yang menjulang, terbuat dari ijuk dan berhiaskan tanduk kerbau di pucuknya yang melambangkan kekuatan.Struktur Rumah Bolon terdiri dari dua bagian utama: bagian atas sebagai tempat tinggal tanpa kamar dengan ruang terbuka yang fungsional, dan bagian bawah yang digunakan untuk menyimpan hasil panen dan ternak.Dinding rumah biasanya dihiasi dengan ornamen gorga berwarna merah, putih, dan hitam yang masing-masing melambangkan ilmu pengetahuan, ketulusan, dan kewibawaan.Rumah Bolon bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol kearifan lokal, kekuatan keluarga, dan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.Baca juga: Apa Nama Rumah Adat Sumatera Barat?Rumah Gadang merupakan rumah adat Provinsi Sumatra Barat. Rumah tradisional ini menjadi ciri keluarga luas matrilineal Minangkabau Sumatra Barat.Rumah Gadang berbentuk kapal, yaitu kecil dibawah dan besar di atas. Bentuk atapnya punya lengkung ke atas, kurang lebih setengah lingkaran, dan berasal dari daun rumbio  (nipah).Bentuknya menyerupai tanduk kerbau dengan jumlah lengkung biasanya empat atau enam, dan satu lengkungan ke arah depan rumah.Denah dasar bentuk empat persegi panjang dan lantai berada diatas tiang-tiang. Konstruksi rumah gadang dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi di atas 8 skala richter.Kalau ada gempa bumi, rumah gadang hanya akan berayun mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut.Rumah ini dinamakan Selaso Jatuh Kembar karena ia memiliki selasar (selaso) yang lebi rendah (turun) dibandingkan dengan ruang tengah. Secara keseluruhan rumah adat Riau ini dibuat dari bahan alam.Atapnya terbuat dari yang diikat dengan rotan pada tulang atap, sementara bagian lainnya seperti dinding, tiang, atau lantai terbuat dari kayu-kayu kualitas terbaik semacam kayu meranti, kayu punak atau kayu medang.Pada masa silam rumah ini tidak dipakai untuk tinggal tetapi difungsikan sebagai balai pertemuan.Rumah Panggung Kajang Leko adalah konsep arsitektur dari Marga Bathin. Tipologi rumah Kajang Leko berbentuk bangsal atau empat persegi panjang.Atap bangunannya dinamai “ gajah mabuk” yang diambil dari nama pembuat rumah yang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu orang tuannya.Bubungan tersebut menyerupai perahu dengan ujung bagian atas bubungan melengkung ke atas yang disebut potong jerambah, atau lipat kajang.Dengan atap bagian atas dinamakan kasau yang dibuat dari anyaman ijuk kemudian dilipat dua yang berfungsi untuk mencegah air hujan agar tidak masuk ke rumah.Sedangkan pintunya terdiri atas tiga macam yakni, pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang.Baca juga: 7 Rumah Adat Padang beserta KeunikannyaRumah Limas sangat luas dan seringkali digunakan sebagai tempat berlangsungnya hajatan atau acara adat.Luasnya mulai 400 hingga 1.000 meter persegi, Bahan material dalam membuat dinding, lantai dan pintu menggunakan kayu tembesu.Sementara untuk tiang rumah pada umumnya menggunakan kayu  unglen yang tahan air. Selain berbentuk limas, rumah tradisional Sumatera Selatan ini juga tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiangnya ditancapkan hingga ke dalam tanah.Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan.Rumah Panggung atau Rumah Panggong tertuang pada desain  arstitektur sebagai berikut:Rumah Bubungan Lima sebetulnya berasal dari nama desain atap dari rumahnya. Atap tersebut biasanya dibuat dari bahan ijuk, kendati belakangan penggunaan genteng dan seng lebih populer. Desainnya mampu menahan guncangan gempa yang diperoleh dari susunan tiang-tiang penyangga rumah yang berjumlah 15 dengan tinggi 1,8 meter.Tiang-tiang penyangga rumah tersebut ditumpangkan di atas batu datar sebagai peredam saat gempa terjadi.Penggunaan batu datar sebagai pengganjal tiang juga berfungsi untuk mencegah tiang rumah cepat melapuk.Strukturnya yang berupa rumah panggung mewajibkan rumah Bubungan Lima untuk memiliki sebuah titian tangga sebagai jalan masuk menaiki rumah.Rumah adat Lampung Nuwo Sesat memiliki keunikan utama sebagai rumah panggung yang berfungsi sebagai balai pertemuan warga kampung.Namanya berasal dari kata Nuwo yang berarti rumah dan Sesat yang berarti adat. Rumah ini menggunakan kayu sebagai bahan utama dan memiliki struktur panggung untuk menghindari hewan buas serta sebagai desain tahan gempa.Akses masuknya melalui tangga bernama Ijan Geladak yang dihiasi dengan ukiran etnik Lampung.Bagian depan rumah dilengkapi dengan serambi kecil bernama anjungan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan kecil atau bersenda gurau, mencerminkan fungsi sosial dan budaya masyarakat Lampung dalam arsitektur rumahnya.Baca juga: Daftar Nama Rumah Adat di IndonesiaRumah Kebaya merupakan salah satu peninggalan budaya nenek moyang adat Betawi dalam bidang rancang bangun hunian.Pondasi rumah terbuat dari susunan batu alam yang dibentuk menyerupai umpak. Pondasi ini menyangga tiang-tiang rumah yang mengokoh tegakkan berdirinya bangunan.Atap umumnya terbuat dari material genteng tanah atau anyaman daun kirai, dibentuk seperti pelana dengan kemiringan bagian depan yang sangat rendah. Pendopo atau teras dibuat cukup luas dilengkapi meja kursi.Rumah Kasepuhan adalah rumah panggung tradisional yang menggunakan atap dari daun alami seperti kiray dan daun tepus, bilik bambu, serta tiang kayu.Struktur rumah terdiri dari umpak batu yang menyangga tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah, sehingga kayu terlindungi dari kerusakan dan serangan rayap.Di bagian bawah atau kolong, rumah ini menyediakan ruang untuk beternak ayam dan bebek. Bagian tengah rumah, yang disebut beuteung atau eusi, terbuat dari bilik bambu.Di atas dapur terdapat para, tempat penyimpanan bahan makanan dan bibit. Atapnya terbuat dari dedaunan ijuk yang kuat menahan air dan angin, mencerminkan penggunaan bahan alami dalam konstruksinya.Bentuk dan gaya bangunan rumah tinggalnya sangat sederhana. Rumah adat Badui memanfaatkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi lahan yang ada.Bangunan rumah tinggalnya berbentuk rumah panggung. Karena konsep rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan memiliki ketinggian berbeda-beda.Pada bagian tanah yang datar atau tinggi, tiang penyangganya relatif rendah. Adapun pada bagian yang miring, tiangnya lebih tinggi.Tiang-tiang penyangga tersebut bertumpu pada batu kali agar kedudukannya stabil. Batu kali merupakan komponen yang cukup penting pula di lingkungan kampung suku Baduy. Selain digunakan untuk tumpuan tiang penyangga, batu kali juga digunakan sebagai penahan tanah agar tidak longsor.Baca juga: Mengenal Suku, Bahasa, Rumah Adat, dan Pakaian di Nusa Tenggara Timur Struktur rumah tradisional Jawa terdiri dari berbagai komponen kayu yang saling mendukung dan memperkuat, mulai dari molo yang merupakan balok paling atas sebagai "kepala" bangunan, hingga songgo-uwang sebagai penyangga dekoratif.Ander, pengeret, santen, sunduk, dan kili bekerja sama menopang dan menstabilkan kerangka rumah, sementara pamidhangan dan dhadha peksi membentuk rongga dan balok pengerat di bagian atas rumah.Elemen-elemen seperti penitih, penangkur, emprit-ganthil, kecer, dudur, dan elar saling melengkapi struktur dan fungsi penopang, memperkokoh bangunan agar tahan terhadap goncangan sekaligus memberikan estetika khas rumah Jawa.Keseluruhan komponen ini mencerminkan kecermatan dan kearifan lokal dalam arsitektur tradisional yang fungsional dan memiliki nilai budaya tinggi.Rumah Bangsal Kencono Keraton dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I dan merupakan rumah kediaman sekaligus istana bagi raja Ngayogyakartan Hadiningrat dari dulu hingga sekarang.Atap rumah ini memiliki bubungan tinggi yang menopang pada 4 tiang di bagian tengah yang bernama Soko Guru.Material atapnya sendiri terbuat dari bahan sirap atau genting tanah. Adapun untuk tiang dan dinding, rumah ini disusun dari kayu-kayuan berkualitas.Tiang yang biasanya dicat berwarna hijau gelap atau hitam menopang pada umpak batu berwarna hitam keemasan.Sementara lantainya dibuat dari bahan marmer dan granit dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya.Sebutan Joglo mengacu pada bentuk atapnya, mengambil stilasi bentuk sebuah gunung. Dalam kehidupan orang Jawa, gunung merupakan sesuatu yang tinggi dan disakralkan dan banyak dituangkan kedalam berbagai simbol, khususnya untuk simbol-simbol yang berkenaan dengan sesuatu yang magis atau mistis. Hal ini karena adanya pengaruh kuat keyakinan bahwa gunung atau tempat yang tinggi adalah tempat yang dianggap suci dan tempat tinggal para dewa.Rumah Gapura Candi Bentar memiliki desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa sehingga tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa atap penghubung. Hanya ada dua bangunan candi yang kembar saling berhadapan dan saling terpisah.Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga dan pagar pintu yang biasanya dibuat dari besi.Terdapat sebuah bangunan suci di depan rumah yang biasa digunakan untuk bersembahyang yang bernama Sanggah atau Pamerajan.Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari. Adapun atapnya sendiri dapat dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau sejenisnya.Baca juga: Mengenal Rumah Adat Suku Dayak di KalimantanRumah Gapura Candi Bentar memiliki desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa sehingga tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa atap penghubung. Hanya ada dua bangunan candi yang kembar saling berhadapan dan saling terpisah.Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga dan pagar pintu yang biasanya dibuat dari besi.Terdapat sebuah bangunan suci di depan rumah yang biasa digunakan untuk bersembahyang yang bernama Sanggah atau Pamerajan. Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari. Adapun atapnya sendiri dapat dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau sejenisnya.Rumah Gapura Candi Bentar memiliki desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa sehingga tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa atap penghubung. Hanya ada dua bangunan candi yang kembar saling berhadapan dan saling terpisah.Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga dan pagar pintu yang biasanya dibuat dari besi. Terdapat sebuah bangunan suci di depan rumah yang biasa digunakan untuk bersembahyang yang bernama Sanggah atau Pamerajan. Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari. Adapun atapnya sendiri dapat dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau sejenisnya.Rumah Istana Kesultanan dibangun dari kayu dan terlihat sedikit kuno dengan penggabungan arsitektur pada zaman Belanda, yang memadukan unsur Melayu dan Islam.Warna istana keraton ini didominasi warna kuning dan putih pada bagian dinding dan warna coklat gelap pada bagian atap.Baca juga: Daftar Baju Adat, Rumah Adat, Senjata Tradisional, dan Tarian Adat di 34 ProvinsiBentuk dan ukuran rumah adat Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter.Umumnya rumah Betang dibangun berbentuk panggung dengan tinggi tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini diperkirakan untuk menghindari banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan, menghindari musuh yang dapat datang atau binatang buas. Arsitektur fisiknya berbentuk rumah yang memanjang dengan tiang (kolong) tinggi yang mereka sebut sebagai rumah Betang atau Rumah Panjang atau Lamin (Long House).Rumah Bubungan Tinggi memiliki struktur panggung. Tegaknya rumah ditopang oleh tiang-tiang besar berbentuk silindris yang terbuat dari kayu-kayu keras. Bentuk atap bagian tengah yang tinggi dan melancip. Atap Sindang Langit yang memanjang tidak dilengkapi dengan plafon.Tangga naik selalu memiliki jumlah ganjil. Bagian terakhir ruang pamedangan diberi pagar keliling dengan ukiran Kandang Rasi.Rumah Lamin adalah rumah panggung dengan daya tampung yang sangat besar. Besarnya daya tampung rumah ini merupakan tanda bahwa masyarakat Dayak di daerah Kalimantan Timur memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi.Rumah adat suku Dayak ini dibuat menggunakan kayu ulin. Kayu ulin adalah kayu terbaik yang hanya dapat diperoleh dari hutan Kalimantan.Kayu ini sangat kuat dan tidak mudah melapuk. Bahkan jika terkena air, kayu ulin ini justru akan bertambah tingkat kekerasan dan kekuatannya.Oleh karena itu, kayu yang mendapat julukan sebagai kayu besi digunakan sebagai tiang penyangga, dinding, sekaligus untuk alas rumah.Baca juga: Mengenal Rumah Adat Suku Sasak dan FilosofinyaRumah Baloy berdesain panggung dengan bahan keseluruhan terbuat dari kayu ulin. Kayu ulin adalah kayu khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat struktur seratnya. Tidak seperti kayu jenis lain yang akan melapuk jika terkena air, kayu ulin justru akan semakin kuat dan semakin keras apabila terpapar oleh air dalam waktu yang relatif lama. Sesuai dengan lingkungan tempat dibuatnya, yakni yang biasanya terletak di tepi pantai, rumah adat Baloy biasanya dilengkapi dengan ukiran-ukiran khas yang menggambarkan kearifan lokal daerah pesisir.Rumah Pewaris berbentuk rumah panggung yang secara keseluruhan materialnya terbuat dari kayu ulin.Kayu khas pulau Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan lapuk. Masyarakat Dayak sering menyebut kayu ulin dengan istilah kayu besi.Hal ini sesuai dengan struktur kayunya yang justru akan semakin keras seperti besi apabila terus terkena air.Memiliki ukiran-ukiran pada dinding, ujung atap, pagar, tangga, dan bagian rumah lainnya. Ukiran yang didominasi warna kuning putih dan hitam ini selain berfungsi sebagai hiasan juga disebut dapat memberi tuah sebagai penolak bala.canva.com ilustrasi rumah adat tongkonan.Rumah Tongkonan sangat terkenal bahkan sampai ke penjuru dunia karena keunikan arsitektur serta nilai nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.Struktur dan arsitektur rumah adat tongkonan memiliki struktur panggung dengan tiang-tiang penyangga bulat yang berjajar menyokong tegaknya bangunan.Tiang-tiang yang menopang lantai, dinding, dan rangka atap tersebut tidak ditanam di dalam tanah, tetapi langsung ditumpangkan pada batu berukuran besar yang dipahat hingga berbentuk persegi.Dinding dan lantai rumah adat Tongkonan dibuat dari papan-papan yang disusun sedemikian rupa. Papan-papan tersebut direkatkan tanpa paku, yaitu hanya diikat atau ditumpangkan menggunakan sistem kunci. Kendati tanpa dipaku, papan pada dinding dan lantai tetap kokoh kuat hingga puluhan tahun. Bagian atap menjadi bagian yang paling unik dari rumah adat Sulawesi Selatan ini. Atap rumah Tongkonan berbentuk seperti perahu terbalik lengkap dengan buritannya. Ada juga yang menganggap bentuk atap ini seperti tanduk kerbau.Baca juga: 4 Jenis Rumah Adat BetawiRumah Tambi berbentuk panggung dengan tiang penyangga pendek yang tingginya tidak lebih dari 1 meter. Tiang-tiang tersebut dibuat dari kayu bonati berjumlah 9 dan saling dilekatkan satu sama lain dengan balok kayu yang dipasak.Tiang-tiang tersebut menyangga rangka lantai yang terbuat dari papan. Lantai rumah ini sendiri dibuat dari papan yang disusun saling berdekatan.Atap rumah Tambi berbentuk prisma dengan sudut kecil di bagian atasnya sehingga terlihat tinggi dan mampu menaungi semua bagian rumah.Rumah Banua Tada disebut rumah Siku karena banyaknya siku-siku pada struktur rangka bangunannya.Semua tiang dibuat dari kayu bulat yang ditumpangkan di atas pondasi batu. Adapun lantai umumnya dibuat dari papan kayu jati yang kuat disusun sedemikian rupa menggunakan teknik kunci.Papan-papan tersebut saling menyatu meski tanpa dipaku. Begitu pula dengan dinding rumah. Sementara atap dibuat dari daun rumbia dan hipa-hipa yang disusun saling bertumpukan.Rumah Dulohupa berbentuk rumah panggung dilengkapi dengan pilar kayu yang dihias sedemikian rupa. Sebagaimana rumah lainnya, Doluhapa juga dibagi kedalam beberapa bagian rumah, antara lain:Baca juga: Mengenal Rumah Adat di Pulau SumateraRumah Baileo berbentuk panggung. Tegaknya bangunan rumah ini ditopang tiang-tiang kayu pendek yang berjajar ditanam ke dalam tanah.Tiang yang umumnya dibuat dari kayu kelapa ini hanya menopang lantai rumah. Sementara atap ditopang oleh tiang sambungan yang ukurannya lebih kecil. Lantai rumah berukuran cukup luas.Dibuat dari susunan papan yang ditumpangkan pada kerangka atap. Papan-papan yang menjadi lantai disusun tanpa dipaku.Rumah Honai berbeda dengan kebanyakan rumah adat di Indonesia yang berstruktur panggung. Rumah Honai sendiri memiliki lantai berupa tanah.Lantai rumah honai ada dua, lantai pertama yang beralas tanah biasanya digunakan untuk tempat berkumpul, bermusyawarah, dan beraktivitas saat malam hari, dan lantai kedua yang beralas papan digunakan untuk tempat tidur.Meski sempit, rumah adat Papua dan Papua Barat ini diisi oleh banyak orang antara 5 sampai dengan 10 orang. Hal ini dimaksudkan agar suhu di dalam rumah dapat tetap terjaga hangat.Rumah adat belah bubung merupakan rumah adat dari Kepulauan Riau yang berbentuk panggung. Nama belah bubung berasal dari atapnya yang terbuat dari bambu atau bubung dengan bentuk seperti terbelah dua. Rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat adat Melayu yang berada di Kepulauan Riau.Bagian tiang terbuat dari kayu, dinding dan lantai terbuat dari papan, sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah atau daun rumbia.Rumah Adat Banua secara historis lebih tua dari rumah Tongkonan di Sulawesi Barat. Rumah adat Banua merujuk pada golongan rakyat biasa, Banua juga memuat strata sosial dengan variasi ukiran untuk meunjukkan kepedudukan pemilik.Ornamen bangunannya berbeda seperti rumah sederhana yang banyak ukiran dan berwarna hitam, mengindikasikan status sosial dan sejarah yang lebih tua. Buana dipentingkan untuk struktur sosial dengan berbagai tipe yang berbeda terkait kedudukan masyarakat.Baca juga: Souraja, Rumah Adat Sulawesi TengahRumah adat Papua Pegunungan, seperti rumah Honai milik suku Dani, berbentuk bulat dengan atap kerucut tumpul yang terbuat dari bahan alami seperti kayu, alang-alang, dan ilalang.Desain ini disesuaikan dengan iklim pegunungan yang dingin dan lembab, sehingga rumah dibuat sempit dan pendek agar mudah mempertahankan kehangatan, dilengkapi dengan lubang pembakaran di tengah rumah.Honai memiliki fungsi khusus sebagai tempat tinggal laki-laki dewasa serta pusat aktivitas sosial dan pelatihan adat. Rumah adat suku Mee di Papua Tengah disebut Emawa. Rumah ini mencerminkan kehidupan masyarakat suku Mee yang mendiami pegunungan tengah Papua bagian barat. Suku Marind Anim di Papua Selatan memiliki rumah adat khas bernama Gotad atau disebut juga rumah bujang yang khusus untuk kaum lelaki sejak remaja. Rumah ini biasanya diapit oleh rumah keluarga yang lebih kecil dan rumah wanita (oram aha).umah adat Maluku Utara yang paling dikenal adalah Rumah Baileo. Rumah Baileo merupakan rumah panggung kayu berbentuk persegi yang berfungsi sebagai balai pertemuan adat dan tempat upacara keagamaan, bukan sebagai tempat tinggal.Ciri khas Baileo adalah bangunannya yang terbuka tanpa dinding, dengan tiang-tiang penyangga yang kuat, serta atap yang biasanya terbuat dari daun rumbia.Rumah ini memiliki nilai filosofi tinggi, seperti lantai yang dibuat tinggi untuk memberi ruang bagi roh leluhur keluar masuk, dan ukiran khas berupa ayam, anjing, bulan, bintang, dan matahari sebagai simbol kedamaian dan kemakmuran. Baca juga: Melayu Atap Lontik, Rumah Adat RiauRumah adat di Papua Barat Daya bernama Rumah Kaki Seribu. Rumah ini bersifat multifungsi dan cukup besar, dijadikan rumah besar bagi masyarakat setempat. Detail lebih lanjut ditemukan di laman resmi Pemprov Papua Barat Daya.Rumah adat di Papua Barat salah satunya adalah rumah Kariwari tempat tinggal suku Tobati-Enggros di Teluk Yotefa dan Danau Sentani.Rumah ini khusus untuk anak laki-laki usia 12 tahun ke atas yang belajar keberanian dan tanggung jawab, berbentuk limas segi delapan dengan atap kerucut yang melambangkan kedekatan dengan leluhur.Referensi:


(prf/ega)