JAKARTA, - Prospek kinerja sektor kesehatan di pasar modal Tanah Air dinilai tetap solid, meski pemerintah berencana menyesuaikan iuran BPJS Kesehatan untuk peserta non-subsidi pada tahun anggaran 2026.Penyesuaian itu muncul setelah adanya proyeksi defisit pendanaan BPJS Kesehatan sebesar Rp 7,5 triliun di 2025, sehingga pemerintah dinilai perlu menyelaraskan iuran untuk menutup kekurangan pendanaan saat ini.Berdasarkan rancangan kebijakan, iuran peserta non-subsidi diperkirakan naik menjadi Rp 50.000-Rp 55.000 per bulan dari sekitar Rp 42.000 saat ini.Baca juga: Insentif Impor Kendaraan Listrik Berakhir 2026, Ini Emiten yang UntungkanAnalis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan kebijakan tersebut akan meningkatkan kemampuan BPJS dalam membayar klaim secara tepat waktu, sehingga memperbaiki arus kas rumah sakit yang selama ini menjadi isu utama.“Sehingga iuran lebih sesuai dengan biaya layanan kesehatan sebenarnya dan mempercepat pembayaran klaim kepada rumah sakit,” ujar Herditya kepada Kompas.com, Kamis .Selain penyesuaian iuran, pemerintah akan mengimplementasikan penuh Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di tahun depan, dengan sistem tarif berbasis Indonesian Diagnosis Related Groups (IDRG) atau sistem klasifikasi dan pengelompokan kasus pasien yang digunakan untuk menentukan tarif pelayanan kesehatan.Skema baru tersebut diproyeksikan menguntungkan operator rumah sakit besar yang memiliki efisiensi operasional lebih tinggi.“KRIS akan sepenuhnya diterapkan pada tahun anggaran 2026 dengan penggunaan tarif berbasis IDRG, yang cenderung menguntungkan grup rumah sakit besar karena memiliki biaya operasional lebih efisien,” paparnya.Dengan penerapan KRIS, normalisasi iuran BPJS Kesehatan, serta peningkatan trafik pasien, pertumbuhan industri diproyeksikan mencapai sekitar 6 persen secara tahunan pada 2026, sementara operator rumah sakit besar diperkirakan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan lebih dari 10 persen per tahun.Di tengah dinamika itu, sektor kesehatan tetap dipertahankan dalam rekomendasi Overweight. Sejak 2023, lanjut Herditya, kinerja operator rumah sakit menunjukkan pertumbuhan yang stabil, ditopang oleh permintaan layanan yang terus meningkat dan strategi ekspansi yang terukur.Baca juga: Laba Bersih Emiten Sawit MKTR Naik 105 Persen, Ditopang Penjualan CPO dan CPKODengan dukungan regulasi dan perbaikan sistem pembiayaan kesehatan nasional, emiten rumah sakit dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisi pasar dan mempertahankan momentum pertumbuhan.“Kami mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor kesehatan. Kami melihat adanya potensi bagi operator rumah sakit untuk memperkuat posisi pasar mereka, didukung oleh kinerja yang solid sejak tahun 2023,” katanya.Untuk diketahui, terdapat 38 emiten dalam indeks sektor kesehatan (IDXHEALTH). Mengutip Stockbit, pada sesi perdagangan Kamis siang ini, tepatnya pukul 14.00 WIB, beberapa saham farmasi, rumah sakit, dan layanan kesehatan mengalami penguatan, meski sebagian lainnya melemah atau stagnan.Dari kelompok farmasi besar, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun ke level 1.215 setelah melemah 1,22 persen. Sementara itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) justru menguat 0,91 persen ke level 555.
(prf/ega)
Rencana Iuran BPJS Kesehatan Naik di 2026, Bagaimana Prospek Sektor Kesehatan di Pasar Modal?
2026-01-11 22:18:50
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:27
| 2026-01-11 21:01
| 2026-01-11 20:56
| 2026-01-11 20:33
| 2026-01-11 20:25










































