Pulau Obi Jadi Episentrum Baru Ekonomi Maluku Utara

2026-01-10 10:05:06
Pulau Obi Jadi Episentrum Baru Ekonomi Maluku Utara
- Aktivitas industri pengolahan logam kritis, seperti nikel, di wilayah timur Indonesia menggeliatkan perekonomian daerah setempat. Wilayah yang sebelumnya dianggap tertinggal pun perlahan mulai berkembang.Maluku Utara, salah satu provinsi di kawasan tersebut misalnya, kini muncul sebagai provinsi dengan laju ekonomi tertinggi di Tanah Air.Pada triwulan II 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 32,09 persen. Angka ini jauh melampaui rata-rata nasional yang tumbuh 5,12 persen.Kinerja tersebut menopang wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) yang secara keseluruhan mencatat pertumbuhan 5,03 persen pada triwulan I 2025 dan 5,12 persen pada triwulan II.Baca juga: Harita Raih Penghargaan Kementerian ESDM Bidang Pendidikan dan KesehatanSalah satu episentrum ekonomi baru di wilayah timur Indonesia adalah Pulau Obi di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Pulau seluas 304.800 hektare (ha) ini sejak lama dikenal memiliki cadangan nikel melimpah. Nikel sendiri merupakan mineral penting untuk industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Halmahera Selatan pada 2024 mencapai 23,95 persen, tertinggi di Maluku Utara. Dari jumlah itu, sektor industri pengolahan menyumbang lebih dari separuh produk domestik regional bruto (PDRB), yakni 54,59 persen. Kemudian disusul pertambangan dan penggalian 16,36 persen.Dok. Harita Kelompok tani semangka Desa Buton yang merasa terbantu dengan program pendampingan oleh HARITA Nickel.Kemajuan tersebut tak terlepas dari pertumbuhan kawasan industri terpadu yang beroperasi di Pulau Obi. Salah satunya dikelola oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel), perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi.Baca juga: Tambang Ramah Lingkungan Jadi Tren, Ini Upaya Harita Nickel dan Dairi Prima Jaga AlamDalam satu dekade terakhir, kawasan industri ini berkembang menjadi simpul ekonomi baru yang memadukan kegiatan ekstraksi, pemurnian, energi, dan logistik.Perusahaan tersebut mengoperasikan tiga smelter rotary kiln electric furnace (RKEF), dua refinery high-pressure acid leach (HPAL). Fasilitas ini mengubah bijih nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi yang sebagian besar diekspor untuk kebutuhan industri kendaraan listrik.Selain itu, perusahaan juga membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), terminal ekspor-impor, serta sistem pengolahan air yang menopang operasional industri.Aktivitas industri di Pulau Obi ikut menggerakkan perekonomian lokal. Hingga 2024, lebih dari 23.000 tenaga kerja terserap, baik secara langsung maupun tidak langsung.Baca juga: Menambang Kepercayaan dengan Audit Ketat IRMA: Strategi ESG Harita Nickel Menjawab Tuntutan DuniaSelain itu, tercatat transaksi dengan pemasok lokal senilai sekitar Rp 150 miliar per tahun serta program pemberdayaan bagi 65 kelompok tani dan 51 perempuan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).Peningkatan aktivitas ekonomi membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu contohnya adalah program relokasi penduduk Desa Kawasi ke kawasan baru, sebuah inisiatif bersama antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan perusahaan melalui program CSR. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan sosial-ekonomi warga dengan mengedepankan dialog sosial, menghormati hak-hak masyarakat, menampung masukan dari berbagai pemangku kepentingan, dan memastikan evaluasi berkelanjutan agar manfaatnya optimal.


(prf/ega)