JAKARTA, – Sepanjang 2025, setidaknya empat lokasi dagang di Jakarta Selatan menjadi saksi bagaimana para pedagang kecil dipaksa angkat kaki dari tempat mereka mencari nafkah.Penyebabnya beragam, mulai dari kebakaran, penertiban, konflik administrasi, hingga tindak kriminal.Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan daya beli masyarakat yang melemah, para pedagang mengeluhkan nasib mereka yang semakin terpuruk.Ada yang menangis, marah, hingga menuntut kejelasan dan tanggung jawab pihak berwenang. Sebagian mendapat respons, sebagian lainnya masih menunggu janji bantuan pemerintah yang tak kunjung terealisasi.Baca juga: Kaleidoskop 2025: Permukiman Padat, MCK Minim, dan Ketimpangan Layanan di Jakarta PusatPada pertengahan 2025, Pasar Taman Puring, pusat sepatu legendaris di Jakarta Selatan, dilanda kebakaran hebat saat mayoritas pedagang telah pulang.Peristiwa itu terjadi pada Senin sekitar pukul 18.02 WIB dan menghanguskan sedikitnya 552 kios hingga malam hari.Di tengah kesibukan petugas pemadam kebakaran dan pedagang yang berlarian menyelamatkan barang, suara tangis bersahutan dengan letupan api.Material dagangan seperti karet, kain, dan barang elektronik membuat api cepat membesar dan sulit dipadamkan.Pedagang yang sempat pulang kembali bergegas ke pasar setelah mendapat kabar kebakaran. Namun, tak banyak yang bisa diselamatkan.Heri (39), pedagang sepatu, tiba di lokasi saat karyawannya berusaha menyelamatkan kotak-kotak sepatu dengan melemparkannya keluar pasar.Dari sekitar 2.000 pasang sepatu yang disimpan di kios dan gudang, kurang dari 10 karung berisi kotak sepatu yang berhasil diselamatkan.“Jadi itu (yang selamat) barang yang sudah dipesan, karena sudah di-pack buat dikirim ke kurir,” ujar Heri saat ditemui di lokasi, Senin.Baca juga: Pramono Sebut Revitalisasi Pasar Taman Puring Tak Dilakukan jika Pedagang MenolakPedagang menatap nanar bangunan pasar yang porak-poranda dengan atap rubuh. Meski pasar telah sepi pengunjung sejak pandemi Covid-19, sebagian pedagang tetap bertahan.Bejo (45), salah satu pedagang sepatu, mengaku harus meminjam uang ke sana kemari untuk modal usaha.“Jangankan buat bayar sewa, untuk sehari-hari saja masih syukur ada. Kadang barangnya laris, kalau enggak ya pinjam sana sini,” kata Bejo.Sebelum pandemi, pendapatannya bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Kini, ia harus bertahan dengan sekitar Rp1 juta di luar modal dan sewa kios.Teguh (49), pedagang jam antik, juga bertahan dengan keterampilan servis jam warisan ayahnya. Ia terpaksa memanfaatkan layanan paylater dan pinjaman daring.“Selama pandemi modal saya habis. Akhirnya buat modal itu saya ambil dari PayLater,” katanya.Hingga keesokan hari, bara api masih terlihat di beberapa titik. Air menggenangi akses jalan dan bau menyengat sisa pembakaran tercium dari berbagai arah. Pedagang mengais puing, menyelamatkan sisa barang, bahkan membagikannya kepada pemulung.Sepekan kemudian, lapak darurat mulai berdiri di sekitar puing pasar. Medi (64), pedagang kacamata, kehilangan seluruh barang dagangannya dan harus meminjam Rp 3 juta untuk memulai kembali.Baca juga: Rugi Ratusan Juta, Banyak Pedagang Taman Puring Tak Mampu Bangkit Usai Kebakaran“Laris satu saja alhamdulillah kalau sekarang,” ujarnya, Rabu .Pedagang lain, Yusuf, menyebut banyak pedagang belum mampu bangkit karena keterbatasan modal.“Kalau modalnya nol ya tetap susah,” ujarnya.
(prf/ega)
Kaleidoskop 2025: Pedagang yang Terusir dari Sumber Penghidupan di Tengah Lesunya Ekonomi
2026-01-11 04:11:25
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:44
| 2026-01-11 03:39
| 2026-01-11 03:05
| 2026-01-11 02:42
| 2026-01-11 01:58










































