Meremajakan Pabrik Tua Pupuk Kita...

2026-01-11 21:43:38
Meremajakan Pabrik Tua Pupuk Kita...
JAKARTA, - Bunyi mesin menderu saat rombongan kami melintasi area produksi Pupuk Kujang, Karawang, Jawa Barat, Kamis lalu.Di antara blok-blok mesin berukuran besar, pipa besi menjulur sepanjang jalan seperti sulur tanaman.Satu dua di antaranya, melalui pipa yang lebih kecil asap tipis berebut keluar. Bau amoniak seperti menggaruk hidung meski kami di dalam bus ber-AC.Baca juga: Tata Kelola Pupuk Subsidi Dirombak, Arahkan ke Penguatan Industri/Syakirun Ni'am Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat mengunjungi gudang PT Pupuk Kujang, anak perusahaan PT Pupuk Indonesia di Karawang, Jawa Barat, Kamis .Sebuah bangunan beton yang belakangan saya ketahui sebagai prilling tower, menjulang tinggi dengan gambar senjata kebanggaan rakyat Pasundan: Kujang.Namun, kekokohan itu tidak bisa menutupi apa-apa yang begitu tampak, yakni usia pabrik yang sudah tua.“Saya hari ini berada di Pupuk Kujang yang dibangun tahun 1975. Tahun 1975, jadi sudah 50 tahun,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan saat mengunjungi pabrik Pupuk Kujang, Kamis.Pupuk Kujang merupakan salah satu anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) yang didirikan pada 9 Juni 1975.Baca juga: Sambut Perpres Baru, Pupuk Indonesia: Buka Ruang Peningkatan EfisiensiPerusahaan ini memproduksi 1.140.000 pupuk urea ton per tahun dan 660.000 ton amonia per tahun untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan pasar luar negeri.Namun, seperti isu perusahaan pupuk negara lain, pabrik Pupuk Kujang sudah tua.“Nah, mestinya berapa tahun tadi harusnya? 20 tahun,” ujar Zulhas.Persoalan pabrik pupuk yang sudah tua ini juga disorot Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Senin .DOK. Kementan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu .Baca juga: Subsidi Berbasis Pasar Dinilai Perkuat Industri PupukAmran menyebut, usia pabrik yang tua, tentu dengan teknologi dari 50 tahun lalu, membuat produksi pupuk urea membutuhkan konsumsi gas yang begitu tinggi yakni mencapai Rp 4,5 juta per ton.“Kalau (pabrik dengan teknologi) baru hanya 2 juta ton,” kata Amran di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.Pada kesempatan itu, Amran menjelaskan kepada anggota dewan terkait besarnya biaya produksi di anak perusahaan Pupuk Indonesia, Pupuk Sriwijaya (Pusri) III yang juga telah berusia 50 tahun.Setiap satu ton pupuk urea yang diproduksi, membutuhkan bahan baku gas Rp 4,55 juta, non bahan baku Rp 2,19 juta, harga pokok produksi (HPP) Rp 6,74 juta per, biaya usaha Rp 0,425 juta per ton, dan HPP full cost Rp 7,16 juta per ton.Baca juga: Prabowo Terbitkan Perpres Baru Atur Skema Pembayaran Pupuk Subsidi Dengan metode penetapan harga jual cost plus yang diterapkan selama ini, maka keuntungan yang didapat 10 persen dari biaya produksi.Amran lantas membandingkan biaya produksi per 1 ton pupuk pada pabrik baru Pusri IIIB yang baru berusia 10 tahun.Pabrik itu hanya membutuhkan bahan baku gas Rp 2,68 juta, non bahan baku Rp 2,19 juta, HPP produksi Rp 4,88 juta, biaya usaha Rp 0,425 juta, dan HPP full cost Rp 5,30 juta.“Efisiensi HPP 26 persen,” sebagaimana disebut dalam materi yang Amran paparkan.Baca juga: Pemerintah Siapkan Pupuk Subsidi 9,5 Juta Ton pada 2026Pada kesempatan terpisah, Pupuk Indonesia mengakui biaya produksi pupuk mahal di antaranya karena konsumsi mesin produksi terhadap gas begitu besar.Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira, menyebut konsumsi gas pabrik pupuk di Indonesia yang sudah berusia tua melebihi standar rata-rata dunia.Oleh karena itu, dalam agenda revitalisasi Pupuk Indonesia melakukan efisiensi anggaran, salah satunya dengan menekan konsumsi energi.SHUTTERSTOCK/SINGKHAM Ilustrasi pupuk urea. Yehezkiel mencontohkan untuk memproduksi 1 ton pupuk urea, anak perusahaan PT Pupuk Indonesia, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) membutuhkan 54 MMBTU gas.Baca juga: Dari Drone sampai AI, Pupuk Indonesia Tantang Anak Muda Inovasi Pertanian


(prf/ega)