Dari Ragu Menjadi Laju, Pembayaran Digital Dongkrak Omzet UMKM Medan

2026-01-12 03:45:53
Dari Ragu Menjadi Laju, Pembayaran Digital Dongkrak Omzet UMKM Medan
MEDAN, - Awalnya, Safitri mengira pembayaran digital sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hanya menambah repot dan biaya bagi pedagang kecil.Namun, sejak memakai Octo Merchant, ia melihat hal sebaliknya. Penjualannya meningkat, arus kas lebih teratur dan usahanya semakin berkembang.Ibu berusia 42 tahun ini melanjutkan usaha empek-empek Setia Budi Medan yang sudah dibangun mertuanya sejak tahun 1999. Ia bersama suaminya berjibaku membangun bisnis kuliner khas Palembang itu sejak tahun 2019.“Awalnya tahun 2017 saya resign dari kerjaan. Terus diajari sama mertua untuk buat empek-empek. Nah, tahun 2019 itu mertua laki-laki meninggal dunia karena kena Covid-19.""Terus mertua perempuan juga sudah tua, makanya usaha itu kami lanjutkan,” kata Safitri kepada Kompas.com saat ditemui di rumahnya, kawasan Kecamatan Medan Johor, Minggu .Baca juga: BI Targetkan QRIS Bisa Dipakai di China dan Korea Selatan Mulai 2026Sejak saat itu, Safitri mulai berpikir keras mengembangkan usahanya di tengah kemajuan zaman yang serba digital.Perlahan-lahan ia mencoba penjualan secara online. Untungnya, produknya mulai dikenal luas. Pembelinya tak hanya di Medan karena sampai ke Aceh, Siantar, Karo dan Tarutung.Ibu dua anak ini juga mulai gencar mengikuti bazar-bazar yang diselenggarakan pihak swasta maupun pemerintah.Akan tetapi, dia mendapati kendala. Ternyata, sebagian besar pembeli ingin melakukan pembayaran secara QRIS.“Sebenarnya kami punya outlet di Jalan Setia Budi. Cuma kan saya maunya usaha ini berkembang lebih lagi. Ikut lah bazar sana sini. Nah, dari situ saya mulai sadar ternyata pembeli itu, rata-rata anak muda dan minta pembayarannya QRIS,” ucap Safitri.Dari situ, Safitri mulai mencari informasi dari pelaku UMKM lain terkait QRIS.Tak sedikit pula aplikator yang menawarkan produk QRIS kepadanya. Namun dia tak tertarik. Sebab, ia berhitung mengenai potongan biaya yang dikenakan.“Jadi dulu terdoktrin di otakku, ih ngapain pakai QRIS. Karena ada potongan biaya. Terus uangnya kan gak langsung masuk dari saldo QRIS ke saldo rekening. Padahal kan mau langsung diputar uangnya itu untuk belanja,” ungkap Safitri.Baca juga: Tarif Trans Jateng Hanya Rp 131 dengan QRIS Tap, Berlaku sampai 31 Desember 2025Pada tahun 2023, dia mulai mengenal Octo Merchant. Kala itu, ia mengikuti bazar yang diselenggarakan Pemerintah Kota Medan di Lapangan Benteng.Setiap UMKM diberi edukasi literasi digital. Ia pun ditawari untuk memakai Octo Merchant.“Waktu itu karena pembeli pun rata-rata pakai QRIS. Ya udah saya coba lah Octo Merchant. Dari pada lari nanti pembelinya kan.""Daftarnya gak ribet. Cukup pakai KTP dan Nomor Induk Berusaha. Gak nyangka juga, ternyata engga seribet yang sebelumnya ditawarkan aplikator lain,” ucap Safitri.“Octo ini tidak ada potongan apa-apa dan real time. Artinya saldo dari QRIS itu bisa langsung masuk ke saldo rekening Octo Mobile. Jadi terbantu kali lah ini,” sambungnya. Saftri menyampaikan, berkat Octo Merchant dirinya tak perlu lagi melakukan pencatatan keuangan secara manual. Seluruh riwayat aktivitas penjualannya sudah tercatat secara digital. Hal itu mempermudahnya untuk mendata pendapatan.


(prf/ega)