WAINGAPU, — Di sebuah dusun terpencil di ujung timur Pulau Sumba, deru sepeda motor tua terdengar lirih memecah kesunyian pagi.Jalan tanah berlubang dan licin setelah diguyur hujan malam sebelumnya menjadi lintasan wajib para guru menuju SD Paralel Lailara, sekolah sederhana di Dusun Kambata Kundurawa, Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).Bagi sebagian orang, jarak 20 kilometer mungkin terasa sepele.Namun bagi guru dan anak-anak di pedalaman ini, jarak itu berarti perjuangan melewati jalan rusak, menyeberangi genangan air, dan bertaruh dengan licinnya lumpur hanya untuk bisa belajar.Baca juga: Dimutasi ke Sekolah Terpencil Sejauh 40 Km, Guru SD Bulukamba: Saya Pernah Jatuh karena Jalan RusakBangunan sekolah berdiri di atas tanah sekitar 12x6 meter. Dindingnya dari bambu cincang, atapnya seng mulai berkarat, dan lantainya tanah yang mudah berubah becek saat hujan.Meski sederhana, dari tempat inilah semangat belajar anak-anak Kambata Kundurawa menyala setiap pagi.“Kursi, meja, dan papan tulis kami pinjam dari SDM Tawakihu. Sebagian sudah rusak, tapi kami perbaiki seadanya agar bisa digunakan anak-anak,” tutur Rambu Emelia Namupraingu, penanggung jawab di SD Inpres Paralel Lailara, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu .Sekolah ini belum memiliki nama resmi. Warga mengenalnya berdasar lokasi berdirinya: SD Paralel Lailara.Baca juga: Sekolah Terpencil di Sidoarjo Masih Menanti Makan Bergizi GratisBerdiri sejak tahun 2010, sekolah ini baru benar-benar menjalankan kegiatan belajar mengajar pada tahun 2025 setelah mendapat pengesahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur.Kini ada 18 siswa menimba ilmu di sana, dibimbing enam guru yang mengajar bergantian. Dua guru yang aktif yakni Rambu Emelia Namupraingu dan Depi Peka Amahu.Dari jumlah itu, 16 siswa sudah terdaftar di Dapodik, sementara dua lainnya masih berstatus murid pendengar. Mereka duduk di kelas satu, namun semangatnya tak kalah dengan anak-anak kota.“Kalau sekolah ini tidak ada, anak-anak harus jalan jauh ke sekolah induk di SDI Lailara. Bisa satu jam lebih kalau jalan kaki,” kata Depi.Anak-anak datang dengan pakaian sederhana dan buku tulis yang dijaga rapi. Tak jarang mereka tanpa alas kaki, tetapi tetap tersenyum saat guru menyapa.Dusun Kambata Kundurawa masih jauh dari layak sebagai lingkungan pendidikan. Tidak ada jaringan listrik, apalagi internet.Saat malam tiba, kegelapan menyelimuti dusun. Para guru tidak memiliki rumah dinas dan harus pulang pergi dari sekolah induk puluhan kilometer jauhnya.
(prf/ega)
Menyalakan Harapan di Sekolah Tanpa Listrik dan Berlantai Tanah di Sumba Timur
2026-01-11 03:31:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:48
| 2026-01-11 03:48
| 2026-01-11 02:59
| 2026-01-11 02:14










































