BANDA ACEH, - Satu bulan pascabencana banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang, penanganan di wilayah tersebut dinilai masih sangat minim. Relawan Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH), Aldi Ferdian (24), mengungkapkan bahwa kondisi di pusat kota hingga pelosok desa masih memprihatinkan layaknya baru saja dilanda bencana.“Di kota saja masih ada air, sejauh hasil saya melihat kondisinya warga bantu warga. Saat kami memasuki Kota Tamiang itu kondisinya seperti baru kejadian. Padahal ini kota, seharusnya pembersihan bisa lebih cepat karena mobilisasinya sudah lancar,” kata Aldi kepada Kompas.com, Kamis .Kondisi lebih parah ditemukan di kawasan Lubuk Siduk dan Desa Sikumur. Selain jalanan yang berlumpur serta tumpukan puing kayu yang belum dibersihkan, akses menuju Desa Sikumur hingga kini masih terisolir. Warga hanya bisa mengandalkan perahu motor untuk menyeberangi sungai guna mendapatkan pasokan kebutuhan.Baca juga: Aceh Tamiang Butuh Ribuan Relawan untuk Bersihkan Lumpur di Fasum dan Rumah WargaAldi menjelaskan, meski bantuan logistik berupa makanan sudah mulai mencukupi, para penyintas kini sangat membutuhkan perlengkapan tidur. Banyak warga yang terpaksa beristirahat di kondisi yang tidak layak akibat kehilangan harta benda.“Keperluan mendesak mereka saat ini itu tikar atau alas tidur dan selimut. Mereka itu masih ada yang tidur di atas papan, sedih sekali ya Allah. Pengakuan anak-anak di sana saat malam hari mereka selalu kedinginan,” ungkap Aldi.Menanggapi keterbatasan akses darat, para relawan bersama masyarakat Desa Sekumur berinisiatif membangun helipad darurat. Langkah ini diambil agar penyaluran bantuan melalui jalur udara bisa segera dilakukan secara aman dan efektif.Inisiatif warga ini juga merespons pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang berencana mengerahkan sekitar 200 unit helikopter untuk memperkuat penanganan bencana di wilayah Sumatera.Warga berharap bantuan udara tersebut bisa segera menyentuh desa-desa terpencil yang belum terjangkau lewat darat.“Kami bergerak bersama masyarakat karena kondisi darurat tidak bisa menunggu. Helipad ini kami siapkan agar ketika bantuan udara digerakkan pemerintah, Desa Sekumur sudah siap menjadi titik pendaratan dan distribusi,” kata Aldi.
(prf/ega)
Satu Bulan Pasca-Banjir Aceh Tamiang, Warga Tidur di Atas Papan dan Kedinginan
2026-01-11 03:21:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:08
| 2026-01-11 03:37
| 2026-01-11 01:54
| 2026-01-11 01:50
| 2026-01-11 01:47










































