Menua Tanpa Peta

2026-01-11 22:48:52
Menua Tanpa Peta
INDONESIA sedang menua—diam-diam, tetapi pasti. Data Susenas Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk usia 65 tahun ke atas hampir menyentuh 22 juta orang.Angka ini sering lewat sebagai statistik rutin. Padahal di baliknya tersimpan pertanyaan kebijakan yang jauh lebih mendasar: siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas hidup jutaan lansia Indonesia—negara atau keluarga?Selama ini, jawabannya lebih sering jatuh ke keluarga. Negara hadir, tetapi belum sepenuhnya mengambil alih peran. Dan di situlah persoalan penuaan penduduk Indonesia bermula.Jika menilik struktur umur penduduk usia 15 tahun ke atas, Indonesia secara statistik masih tampak kokoh sebagai negara “produktif”.Kelompok usia muda-produktif seperti 15-24 tahun dan 25-34 tahun masing-masing sekitar 44 juta jiwa lebih — angka yang mencerminkan dominasi penduduk usia kerja dalam perekonomian nasional.Baca juga: Paradoks Global Citizenship: Karpet Merah atau Macan Kertas?Kelompok usia 35–39 tahun dan 40–44 tahun juga masing-masing masih berada di kisaran jutaan jiwa, menunjukkan pangsa usia produktif yang kuat dalam tenaga kerja dan konsumsi domestik.Di sisi lain, kelompok usia 60–64 tahun mencapai lebih dari 12 juta jiwa, dan usia 65–69 tahun sekitar 9,2 juta jiwa — belum termasuk lansia 70 tahun ke atas yang juga menambah jumlah lansia total hampir 22 juta orang (data kelompok 65+).Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun persentase lansia relatif lebih kecil dibandingkan kelompok produktif, pertumbuhannya merupakan porsi signifikan dalam populasi usia dewasa (Susenas, BPS, 2025).Dalam demographic transition theory, fase ini menandai peralihan dari masyarakat muda menuju masyarakat yang makin menua ketika angka harapan hidup meningkat dan angka kelahiran menurun.Tren ini terlihat jelas, meski mayoritas penduduk masih berada di produktif (15–64), kelompok lansia (65+) bertambah secara absolut dan proporsional seiring waktu, mencerminkan fenomena penuaan populasi yang tak bisa diabaikan.Namun, perubahan demografi ini tidak diikuti dengan perubahan cara negara mendistribusikan tanggung jawab sosial.Secara praktik, ketika seseorang melewati usia produktif, beban kesejahteraan berpindah dari pasar kerja ke rumah tangga.Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai rezim familialism welfare, ketika keluarga menjadi penanggung utama risiko usia tua—sakit, kehilangan pendapatan, dan ketergantungan (Saraceno, 2016). Beban ini tidak tercatat dalam APBN, tetapi nyata dalam dapur rumah tangga.Dalam demographic transition theory, fase ini menandai peralihan dari masyarakat muda menuju masyarakat menua, ketika usia harapan hidup meningkat dan angka kelahiran menurun (Notestein, 1945). Indonesia kini tepat berada di fase itu.Pemerintah tentu tidak sepenuhnya absen. Strategi Nasional Peningkatan Kualitas Hidup Lansia telah disusun.


(prf/ega)