Kisah Didik Sugianto, Perintis Maggot Bangka Belitung yang Angkat Kelompok Rentan

2026-01-11 23:16:52
Kisah Didik Sugianto, Perintis Maggot Bangka Belitung yang Angkat Kelompok Rentan
PANGKALPINANG, — Sebuah kawasan perbukitan di pinggiran Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, menjadi sentra budidaya maggot sejak empat tahun terakhir.Kawasan ini dikelola Didik Sugianto (50), ayah empat anak yang beralih profesi dari mandor proyek menjadi aktivis lingkungan yang beraksi nyata."Sampah rumah tangga itu potensinya besar sekali dan nyaris belum ada di Bangka Belitung yang mengelola sebagai pakan ternak dalam bentuk maggot," kata Didik saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa .Baca juga: Saat Pasukan Maggot Jadi Solusi Tangani Limbah MBG di SurabayaDidik menuturkan, keahlian budidaya maggot ia peroleh secara otodidak setelah mendapat informasi dari keluarga iparnya di Bojonegoro, Jawa Timur. Sejak itu, ia mulai bereksperimen sendiri bersama sang istri."Tengah malam itu masih milah-milah sampah, mana yang organik mana yang anorganik. Organik diambil untuk budidaya maggot," ujarnya.Perjalanan itu tak mudah. Didik harus menyiapkan mental, kesabaran, dan tenaga ekstra untuk memulai usaha dari nol."Biasa kawan-kawan kadang bercanda, ada cemooh, mengapa sudah jadi mandor sekarang mengais-ngais sampah," kenang Didik.KOMPAS.COM/ACHMAD FAIZAL Relawan Garda Pangan menyebar limbah MBG di tempat yang berisi maggot.Usaha budidaya yang diberi nama Sahabat Farm kini berkembang pesat.Permintaan maggot meningkat, membuat Didik melibatkan masyarakat sekitar untuk membantu produksi, mulai dari pemilahan sampah hingga panen maggot yang berlangsung setiap 20 hari dari siklus 50 hari."Sekarang sudah ada 13 orang yang ikut bantu-bantu. Mereka berasal dari kelompok rentan, seperti lansia, mantan narapidana, dan disabilitas," ungkap Didik.Dalam sehari, Sahabat Farm mampu menghasilkan omzet Rp 200.000–300.000 dengan harga jual maggot hidup sekitar Rp 8.000 per kilogram."Pembelinya seperti peternak lele, orang perorangan, dan toko ikan hias juga," beber Didik.Baca juga: Kunjungi SPPG di Surabaya, Zulhas Cerita soal Garda Pangan Olah Sampah MBG dengan MaggotDidik memperkirakan potensi pasar maggot akan terus meningkat seiring program ketahanan pangan dan kesadaran lingkungan. Namun, produksinya saat ini masih fokus memenuhi kebutuhan lokal karena keterbatasan peralatan dan tenaga ahli."Jangka panjang kami ingin produksi dalam bentuk pelet. Kadar nutrisi seperti kandungan protein harus dihitung, ada sertifikasi kalau mau ekspor. Jadi sementara fokus lokal dulu," jelas Didik.


(prf/ega)