Menkeu Purbaya Larang Impor Pakaian Bekas, Pedagang "Cakar" di Palopo Was-Was

2026-01-12 13:37:59
Menkeu Purbaya Larang Impor Pakaian Bekas, Pedagang
PALOPO, - Di sudut Pasar Pusat Niaga (PNP) Kota Palopo, Sulawesi Selatan, deretan pedagang memajang pakaian berwarna-warni di tiang besi.Sebagian lainnya ditumpuk di meja kayu sederhana, menunggu pembeli yang mencari baju murah.Dari balik tumpukan itu, suara lembut seorang perempuan terdengar memanggil calon pembeli.“Silakan, Kak… murah ada lima puluh ribu tiga,” kata Indah (37) sambil menata celana jeans bekas yang digantung.Baca juga: Purbaya Bakal Larang Impor Pakaian Bekas, Pedagang Surabaya: Kami Mau Makan dari Mana?Sudah lebih dari enam tahun Indah menjalani hidup sebagai pedagang pakaian bekas, atau di Palopo lebih dikenal dengan sebutan cakar, singkatan dari cap karung.Pagi baginya berarti membuka lapak di antara hiruk pikuk pedagang lain. Sore hari, ia pulang membawa uang pas-pasan, cukup untuk membeli beras, lauk, dan sesekali kebutuhan sekolah anak-anaknya.“Saya hidup dari usaha cakar ini. Dari sinilah saya biayai lima anak sekolah, dari TK sampai SMA,” ucap Indah dengan suara pelan namun mantap, Kamis .Beberapa bulan terakhir, kabar tentang larangan impor pakaian bekas kembali mencuat.Pemerintah pusat menegaskan akan menertibkan peredaran pakaian bekas impor karena dianggap melanggar aturan dan berdampak pada industri tekstil nasional.Bagi Indah, kabar itu terdengar menakutkan. Ia memang tak tahu pasti asal-usul barang yang ia jual, namun yang ia tahu: dari sanalah dapurnya tetap mengepul.“Jangan ditiadakan, kami hanya pedagang kecil. Kalau ditiadakan, kami mau kerja apa?” ujarnya.“Belum ada pemberitahuan resmi memang, tapi kalau benar ditutup, kami pasti susah,” tambahnya.Baca juga: Alasan Anak Muda Pilih Thrifting Pakaian Bekas, Tak Cuma Harga MurahDi pasar tempat Indah berjualan, ada puluhan pedagang yang bernasib sama. Sebagian sudah belasan tahun menekuni usaha ini.Mereka membeli bal pakaian dari Makassar, lalu memilah dan menjualnya satu per satu.Harga satu potong baju bisa semurah Rp 20.000. Meski untungnya tipis, barang seperti ini tetap dicari.


(prf/ega)