Honda Hadapi Tantangan Berat, Proyeksi Laba Turun 20%

2026-01-09 20:20:23
Honda Hadapi Tantangan Berat, Proyeksi Laba Turun 20%
JAKARTA, - Honda Motor Co memangkas proyeksi laba tahunannya hingga 20 persen setelah penutupan pasar, Jumat .Langkah ini menjadi sinyal tekanan besar yang tengah dihadapi pabrikan asal Jepang tersebut di tengah perubahan peta persaingan global.Meski sempat menyebut biaya satu kali untuk pengembangan kendaraan listrik dan gangguan pasokan cip dari Nexperia sebagai faktor utama, persoalan mendasar bagi pabrikan datang dari persaingan global yang kian sengit, terutama dari mobil listrik asal China.Baca juga: BYD Tembus Tiga Besar Daftar Merek Mobil Terlaris Indonesia/Agung Kurniawan Fascia depan Mobil Prototipe SUV Listrik Honda Zero AlphaDikutip dari Reuters, di Asia Tenggara, wilayah yang selama ini menjadi basis kuat Honda, merek-merek baru seperti BYD terus memperluas dominasi dengan harga agresif dan teknologi baterai yang semakin efisien.Kondisi ini membuat produsen Jepang tersebut kehilangan sebagian besar daya saingnya.“Di pasar seperti Thailand, persaingan kini sangat ketat dan kami kehilangan daya saing dalam hal harga,” ujar Wakil Presiden Eksekutif Honda, Noriya Kaihara.Selama dua tahun terakhir, pertumbuhan penjualan mobil listrik China di kawasan terkait memang melesat, menekan dominasi produsen Jepang yang dulu nyaris tak tertandingi.Kinerja Honda di Asia pun ikut merosot.Penjualan ritel di Indonesia turun hampir 30 persen selama sembilan bulan pertama tahun ini, di Malaysia 18 persen, dan di Thailand 12 persen.Baca juga: Benarkah Kecepatan Bensin Menguap Pengaruhi Performa Kendaraan?PAULTAN.org Ilustrasi pabrik Honda di Malaysia.Minimnya peluncuran model baru memperparah keadaan.Pada tahun fiskal ini, Honda hanya menjadwalkan pembaruan untuk model City, sementara pabrikan China terus meluncurkan lini kendaraan listrik baru dengan fitur canggih dan banderol kompetitif.Sebagai langkah antisipatif, Honda mulai mengalihkan fokus ke India, satu-satunya pasar besar yang relatif tertutup bagi produsen China.Negara tersebut akan dijadikan basis produksi dan ekspor untuk kendaraan listrik baru Honda, mengikuti langkah serupa Toyota dan Suzuki.Namun, sejumlah analis menilai strategi itu belum cukup untuk menghadapi tantangan jangka panjang. “Honda menghadapi kesenjangan profitabilitas antara bisnis mobil dan motor yang semakin melebar,” ujar Yoshio Tsukada, pendiri Tsukuda Mobility Research Institute.Presiden dan CEO Honda Motor Co Ltd, Toshihiro Mibe, sendiri sebelumnya mengakui bahwa arah industri global kini bergeser ke China. “Honda memiliki pengalaman sekitar 40 tahun dalam teknologi fuel cell. Kami memahami bahwa infrastruktur dan biaya hidrogen masih menjadi kendala utama saat ini,” ujarnya di Tokyo.


(prf/ega)