Apakah Beras Rendah Karbon Bikin Petani Untung? Ini Hitungan Versi Perpadi

2026-01-11 03:14:51
Apakah Beras Rendah Karbon Bikin Petani Untung? Ini Hitungan Versi Perpadi
JAKARTA, – Produksi beras rendah karbon tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih efisien dibanding praktik konvensional. Pernyataan ini disampaikan Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso, dalam Konferensi Pers International Sustainable Rice Forum (ISRF) di Ancol, Jakarta, Senin .“Dalam rangka pelaksanaan low carbon ini, ternyata bukan menambah biaya, tetapi justru akan terjadi efisiensi. Efisiensi, baik di tingkat petani maupun di tingkat pembelian,” kata Sutarto.Sutarto menjelaskan, salah satu praktik rendah karbon adalah tidak harus terus-menerus mengairi sawah sepanjang musim tanam. Padahal, di beberapa daerah, petani kerap mengeluarkan biaya besar untuk mengairi sawah.Selain itu, sawah yang selalu tergenang air juga memicu produksi gas metana yang buruk bagi lingkungan.Baca juga: Wujudkan Produksi Beras Rendah Karbon, Perpadi Dorong Penggilingan Padi Beralih ke ListrikTak hanya itu, penggunaan pupuk yang berlebihan oleh sebagian petani selama ini juga menjadi perhatian.Menurut Sutarto, standar bagan warna daun kini bisa menjadi panduan dalam menentukan jumlah pupuk yang tepat. Begitu pula dengan pestisida, petani kerap menyemprot hama meski tidak ada hama sama sekali.Untuk itu, Perpadi mendampingi petani agar praktik produksi beras rendah karbon dapat direalisasikan tanpa menurunkan produktivitas pertanian.“Kita tahu bahwa penggunaan pupuk yang tinggi itu akan mengganggu kesuburan tanah,” ujar Sutarto.Dengan penerapan sistem ini, produksi beras rendah karbon tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendorong efisiensi biaya dan menjaga kesuburan tanah, sehingga petani tetap mendapatkan hasil yang optimal.Baca juga: Produksi Beras Nasional Meningkat, Komisi IV DPR RI Apresiasi Kinerja Mentan AmranBeras rendah karbon adalah beras yang diproduksi dengan metode yang menghasilkan emisi gas karbon lebih rendah dibandingkan produksi konvensional.Pendekatan ini melibatkan praktik pertanian yang ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik, pengelolaan air yang efisien, dan penggantian bahan bakar fosil pada penggilingan padi.Tujuannya adalah menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung produksi beras yang berkelanjutan.Produksi beras selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca, mencapai sekitar 2,5 persen dari total emisi manusia.Baca juga: Ini Keuntungan Produksi Beras Rendah Karbon bagi Petani dan Konsumen Untuk mengatasi hal ini, proyek SWITCH-Asia Low Carbon Rice Project digagas dengan dukungan Uni Eropa, bertujuan menurunkan jejak karbon dari budidaya padi hingga penggilingan beras.Proyek ini sudah diuji coba di beberapa lokasi percontohan di Jawa Tengah, termasuk Klaten, Sragen, dan Boyolali."Produksi beras rendah karbon bisa ditempuh di hulu melalui petani yang menanam padi organik, dan di hilir melalui penggilingan yang mengganti bahan bakar solar dengan listrik," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari, di Kompas.com, beberapa waktu lalu.Menurut Dyah, sumber emisi terbesar berasal dari penggunaan pupuk kimia dan mesin penggiling padi berbahan bakar fosil yang melepaskan gas karbon ke atmosfer.Selain menekan emisi, beras rendah karbon juga menjadi bagian dari strategi produksi berkelanjutan yang sejalan dengan ekonomi hijau. Pendekatan ini menggabungkan kelestarian lingkungan, kelayakan ekonomi, dan tanggung jawab sosial, sehingga beras yang dihasilkan tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mendukung kesejahteraan petani dalam jangka panjang.


(prf/ega)