Emiten Ramai-ramai Lakukan Buyback Saham, Apa Artinya bagi Investor?

2026-01-11 15:32:45
Emiten Ramai-ramai Lakukan Buyback Saham, Apa Artinya bagi Investor?
JAKARTA, — Sejumlah emiten melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai besar dalam beberapa waktu terakhir. Analis menilai, tren ini mencerminkan posisi kas emiten yang kuat serta valuasi saham yang masih di bawah nilai wajarnya.Salah satu emiten yang melaksanakan buyback adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Perseroan telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS untuk melakukan buyback saham senilai Rp 2,49 triliun.Manajemen ITMG menjelaskan, langkah tersebut dilakukan karena harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental dan prospek jangka panjang perusahaan.Baca juga: BBCA hingga Astra Buyback Triliunan, Pasar Saham Dapat Sinyal Positif“Pembelian saham kembali akan dilakukan melalui Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan paling lambat 12 bulan dari tanggal RUPSLB,” tulis manajemen ITMG dalam keterangannya, Selasa .Selain ITMG, PT Astra International Tbk (ASII) juga mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp 2 triliun.Jumlah buyback ini tidak melebihi 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor, serta menjaga saham free float agar tidak kurang dari 7,5 persen. Aksi buyback ASII berlangsung dari 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026.Anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), turut melakukan buyback senilai maksimal Rp 2 triliun, yang digelar mulai 31 Oktober 2025 sampai 30 Januari 2026.Baca juga: BRI (BBRI) Masih Punya Rp 2,5 Triliun untuk Buyback SahamSementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyiapkan dana hingga Rp 5 triliun untuk buyback saham yang berlangsung dari 22 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026.Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai, maraknya buyback saham menandakan kombinasi antara fundamental emiten yang kuat, valuasi yang undervalued, serta posisi kas yang solid.Menurut dia, neraca keuangan yang sehat memberi ruang bagi emiten untuk melakukan buyback tanpa mengganggu arus kas operasional maupun rencana ekspansi.“Aksi buyback sering dimanfaatkan manajemen sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan dan upaya menjaga stabilitas harga saham di tengah potensi pelemahan likuiditas pasar,” ujar Reza, Jumat .Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi juga menilai mayoritas emiten melakukan buyback karena valuasi saham sudah di bawah nilai wajarnya.Ditambah dengan kondisi likuiditas pasar yang cukup tinggi, buyback menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah volatilitas indeks.Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Siapkan Buyback Saham Rp 1,17 Triliun, Tunggu Kondisi PasarDalam jangka pendek, aksi buyback biasanya memberikan dampak positif bagi emiten karena dapat meningkatkan sentimen pasar dan earning per share (EPS) melalui pengurangan jumlah saham beredar. Namun, buyback juga dapat menurunkan kas perusahaan meski tidak signifikan bagi emiten besar.“Buat investor, buyback ini menunjukkan kepercayaan dari manajemen emiten, sehingga bisa menjadi momentum akumulasi,” kata Wafi.


(prf/ega)