Satu Karung demi Sebuah Masa Depan, Perjuangan Saptuah, Ibu di Ladang Jagung Lampung

2026-01-12 05:32:59
Satu Karung demi Sebuah Masa Depan, Perjuangan Saptuah, Ibu di Ladang Jagung Lampung
LAMPUNG, - Di sebuah hamparan ladang jagung di Desa Way Kalam, Lampung Selatan, seorang perempuan berkerudung lusuh tampak bergerak perlahan di antara batang-batang jagung yang mulai mengering.Namanya Saptuah, 50 tahun.Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, ia sudah berada di lahan milik orang lain untuk bekerja sebagai buruh pemetik jagung, pekerjaan serabutan yang ia jalani demi menabung biaya sekolah anak bungsunya yang akan masuk SMA tahun depan.Uang yang ia dapat tak seberapa.Dalam sehari, upah memetik biasanya dihitung per karung, tergantung seberapa banyak ia kuat mengumpulkan hasil panen itu.Namun, bagi Saptuah, setiap butir jagung yang ia ambil adalah langkah kecil menuju harapannya: agar anaknya bisa melanjutkan sekolah dan tidak berhenti di bangku SMP seperti sebagian remaja lain di kampungnya.Baca juga: Ummu Vio, Perjuangan Ibu Mengendarai Cinta di Atas Honda Beat TuaPagi itu, embun masih menempel di helaian daun ketika tangan Saptuah mulai bekerja.Dengan cekatan, ia meraih tongkol yang tampak paling siap dipetik, menggenggamnya kuat, lalu memutarnya hingga terlepas dari batang.Suara "krek" dari patahan tangkai terdengar berulang, menjadi ritme yang menandai awal hari kerjanya.Sesekali, ia harus menyingkirkan daun kering yang menggores kulitnya.Saptuah sudah terbiasa dengan rasa perih itu.Tangannya yang kapalan menunjukkan betapa pekerjaan ini telah menjadi bagian hidupnya selama bertahun-tahun."Kalau tidak begini, saya mau kerja apa lagi?" gumamnya pelan sambil terus memasukkan tongkol jagung ke dalam ember kecil yang ia bawa, Selasa .Setelah ember penuh, Saptuah berjalan perlahan ke tepi lahan tempat sebuah karung putih berdiri menunggu.Ia menunduk, menuangkan hasil petikannya, lalu merapikan posisi karung agar tetap tegak.


(prf/ega)