Guru Besar UGM Sebut Fenomena Blue Clay Jadi Penyebab Utama Longsor Pandanarum Banjarnegara, Apa Itu?

2026-01-12 07:06:55
Guru Besar UGM Sebut Fenomena Blue Clay Jadi Penyebab Utama Longsor Pandanarum Banjarnegara, Apa Itu?
- Longsor besar di Dusun Situkung, Pandanarum, Banjarnegara yang terjadi pada Sabtu , masih menyisakan duka.Di hari keenam pencarian, Tim SAR gabungan menghadapi hambatan cuaca dan kondisi tanah yang terus bergerak di lokasi bencana untuk mengevakuasi korban yang masih tertimbun.Di tengah proses pencarian yang memasuki hari kelima, seorang pakar geologi dari UGM mengungkap faktor utama penyebab pergerakan tanah tersebut.Fenomena blue clay atau lempung biru disebut menjadi elemen geologi yang selama ini terabaikan namun berperan besar dalam longsor Situkung.Baca juga: Kisah Eti, Sempat Tak Percaya Bisa Selamat dari Longsor Pandanarum Banjarnegara Setelah Berlari ke HutanDilansir dari TribunJateng.com, Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof Dwikorita Karnawati, menyebut material lempung biru (blue clay) sebagai penyebab utama pergerakan tanah yang memicu longsor besar di Banjarnegara.Jenis tanah ini sangat sensitif terhadap air dan mengalami pembengkakan ekstrem ketika jenuh air."Ketika kering, keras seperti batu. Saat menyerap air berubah menjadi material mirip pasta atau odol. Ketika jenuh, tanah ini kehilangan kekuatan dan mudah bergerak merayap," ujar Dwikorita.Baca juga: Update Longsor Banjarnegara: 10 Orang Meninggal, 934 Mengungsi, dan 18 Masih HilangIa menyatakan, longsor di Majenang Cilacap dan Pandanarum Banjarnegara menunjukkan pola geologi serupa meski faktor pemicunya berbeda.Keduanya berada di wilayah pegunungan selatan hingga jajaran gunung tengah Pulau Jawa yang memiliki lapisan tanah lapukan tebal, gembur, dan rapuh di atas lapisan kedap air."Polanya sama, pemicunya yang berbeda," tegasnya.Pada beberapa titik, longsor dipicu hujan ekstrem yang meresap ke tanah.Namun di lokasi lain pemicunya dapat berasal dari getaran kendaraan besar, kendaraan berkecepatan tinggi, gempa bumi, hingga aktivitas manusia seperti pemotongan kaki lereng.Dwikorita mengingatkan bahwa tanah yang bergerak hampir selalu memberikan sinyal.Retakan tanah mendadak, bentuk tapal kuda, dinding rumah bergeser, pohon dan tiang listrik yang condong, hingga mata air baru dari lereng merupakan tanda bahwa tanah sedang bergerak."Begitu tanda-tanda itu muncul, jangan tunggu suara gemuruh atau material mulai turun. Itu sudah fase terlambat," ujarnya.


(prf/ega)