INALUM Catat Penjualan Aluminium 236.000 Ton, Domestik Jadi Pasar Utama

2026-02-04 12:21:54
INALUM Catat Penjualan Aluminium 236.000 Ton, Domestik Jadi Pasar Utama
JAKARTA, – PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), perusahaan produsen aluminium milik negara, mencatat penjualan hingga Oktober 2025 mencapai 236.517 ton. Angka ini melampaui target RKAP 231.034 ton atau 102,4 persen dari target tahunan, sekaligus meningkat dibanding periode sama tahun lalu yang tercatat 227.114 ton.Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, mengatakan, “Kami mengapresiasi dukungan pelanggan dan pemangku kepentingan. Hubungan baik dengan para customer menjadi fondasi pertumbuhan industri aluminium nasional.”Ia menambahkan, kontribusi pemangku kebijakan dan pelaku industri menjaga ekosistem pasar aluminium tetap kondusif dan optimis.Kinerja positif INALUM didorong oleh permintaan yang meningkat dari berbagai sektor industri dalam negeri, termasuk ekstrusi, otomotif, kabel, hingga industri lembaran aluminium.Produk unggulan Ingot G1 menjadi kontributor terbesar, diikuti Ingot S1B, Alloy, Billet, Molten, dan Ingot S2. Pasar ekspor juga mencatat performa stabil dengan Malaysia sebagai tujuan utama, diikuti Korea Selatan, Jepang, China, India, Thailand, dan negara lainnya. Secara keseluruhan, 76 persen penjualan dialokasikan untuk pasar domestik dan 24 persen untuk pasar global.Baca juga: Inalum Percepat Hilirisasi Aluminium untuk Penuhi Kebutuhan NasionalDirektur Pengembangan Usaha INALUM, Arif Haendra, menilai pencapaian ini sebagai momentum untuk tahun depan.“Penjualan yang solid di pasar domestik maupun ekspor membuktikan strategi kami berada di jalur yang tepat. Dukungan semua pihak perlu terus dijaga agar kinerja INALUM lebih baik pada 2026,” ujarnya, melalui keterangan pers, Senin .Sebagai bentuk apresiasi, INALUM menyelenggarakan Customer Gathering 2025 melalui sesi Aluminium Talk. Acara ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum diskusi soal perkembangan industri aluminium dan prospek ekonomi Indonesia.INALUM juga memberikan penghargaan kepada pelanggan loyal dari berbagai lini produk sebagai wujud terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin.Menjelang akhir tahun, INALUM menegaskan komitmen memperkuat industri aluminium nasional. Perusahaan tengah menyiapkan pengembangan pabrik pemurnian Alumina SGAR Phase 2 dengan kapasitas 2 juta ton per tahun, pembangunan smelter kedua di Mempawah, dan peningkatan kapasitas Smelter Kuala Tanjung melalui pembangunan Potline 4.Ketiga langkah strategis ini diharapkan menjadi fondasi transformasi jangka panjang menuju industri aluminium Indonesia yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan.Baca juga: Inalum Pertajam Daya Saing Lewat Inovasi Hijau


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-04 10:26