Ironi Jelang Malam Tahun Baru, Penjual Kembang Api di Surabaya Keluhkan Omzet Turun 50 Persen

2026-01-12 06:15:52
Ironi Jelang Malam Tahun Baru, Penjual Kembang Api di Surabaya Keluhkan Omzet Turun 50 Persen
SURABAYA,  - Malam pergantian tahun biasanya identik dengan langit yang penuh warna-warni kembang api. Namun, menjelang Tahun Baru 2026, suasana di Surabaya, Jawa Timur, terasa berbeda tidak lagi seramai dulu.Lapak-lapak penjual kembang api yang biasa ramai, kini H-3 malam Tahun Baru tampak lengang menyusul adanya imbauan pemerintah untuk merayakan tahun baru secara sederhana.Tak hanya itu, kondisi ekonomi juga disebut menjadi penyebab penjualan kembang api merosot tajam jelang pergantian tahun 2026.Hani Ananda Prasetyo, penjual kembang api di Jalan Pasar Kembang, mengaku bahwa penjualannya tahun ini mengalami penurunan yang sangat terasa dibandingkan tahun lalu.“Beda jauh sekali. Untuk tahun ini sepi banget, karena beberapa waktu lalu ada himbauan dari pemerintah tidak boleh menyalakan kembang api," kata Hani kepada jurnalis termasuk Kompas.com, Senin .Baca juga: Malam Tahun Baru, Pemkab Mimika Ganti Pesta Kembang Api dengan Lepas Lampion"Jadi, ya kemungkinan orang-orang agak takut, selain itu keadaan ekonomi saat ini orang lebih sayang untuk beli kembang api mending buat kebutuhan sehari-hari. Kalau omset ya turun,” ujarnya lagi.Menurut Hani, kondisi ini jauh dari pola penjualan normal di tahun-tahun sebelumnya yang biasanya memuncak beberapa hari sebelum malam pergantian tahun. “Kalau sekarang sepi, jauh hampir 50 persen penurunannya karena himbauan tersebut,” katanya.Kondisi semakin berat bagi Hani dan sejumlah penjual kembang api lainnya karena persiapan penjualan telah dilakukan jauh hari sebelum imbauan dikeluarkan. “Untuk persiapan kembang api ini sudah sejak awal bulan Desember. Jadi barang-barang sudah datang dan imbauannya beberapa waktu terdekat. Makanya imbasnya kelihatan banget,” ujar Hani.Apalagi, menurut dia, sebagian pembeli ada yang sudah terlanjur membeli dengan jumlah besar bahkan sampai meminta pengembalian dana.“Terus ya gimana lagi mereka mintanya dikembalikan. Ya kita tidak bisa nolak karena memang tidak bisa dipakai juga, solusinya ya kita simpan untuk dijual pada waktu Lebaran,” kata pria yang sudah 20 tahun bergabung dengan Toko Harapan Jaya itu.“Karena ini barangnya impor langsung dari China, cuma lewat Jakarta dulu baru Surabaya. Sistemnya kita dititipin barang, kalau laku kita bayarkan,” ujarnya lagi.Baca juga: Malam Tahun Baru Tanpa Pesta Kembang Api, Pemkab Ponorogo: Tak Harus Meriah, tapi...Meski penjualan menurun, Hani mengatakan, permintaan belum sepenuhnya berhenti.Dia menyebut, pembeli lebih selektif dan cenderung memilih jenis kembang api yang dinilai lebih aman.


(prf/ega)