Teknologi 3D Avatar: Fire and Ash Dikritik, James Cameron: Saya Suka, Ini Film Saya

2026-01-12 05:11:18
Teknologi 3D Avatar: Fire and Ash Dikritik, James Cameron: Saya Suka, Ini Film Saya
- James Cameron menjawab kritik terhadap teknologi 3D dan frame rate tinggi (HFR) dalam film Avatar terbarunya, Avatar: Fire and Ash.Keluhan umum tentang HFR khususnya adalah bahwa hal itu justru merusak pengalaman menonton, karena dapat membuat film terlihat kurang sinematik secara tradisional dan lebih seperti video game atau sinetron"Yah, itu argumen dari ahli," ucap Cameron."Tapi argumen dari segi artistik adalah: Saya kebetulan menyukainya, dan ini film saya," lanjutnya.Memperluas penjelasannya tentang 3D dan frame rate tinggi, Cameron membahas hal teknis.Baca juga: Hargai Kreativitas, James Cameron Tegaskan Tak Tertarik Gunakan AIMengatakan bahwa ia menyukai frame rate tinggi untuk "menghaluskan" pengalaman 3D."Kita memiliki banyak neuron berbeda yang melakukan banyak hal sulit. Tetapi kita memiliki neuron khusus untuk paralaks," katanya."Jadi ketika orang mengatakan mereka mengalami ketegangan mata saat menonton 3D, itu bukan ketegangan mata, melainkan ketegangan otak. Neuron yang sensitif terhadap paralaks itu tidak dapat aktif jika tepi vertikal suatu objek bergerak-gerak. Otak tidak dapat memprosesnya," jelasnya.Cameron menjelaskan alasan perlu memadukan dua teknologi itu dalam filmnya.Baca juga: Saran James Cameron Sebelum Nonton Avatar: Fire and Ash"Jadi, jika kita mengalami efek stroboskopik yang menurunkan kualitas pengalaman 3D, maka kita akan menggunakan frame rate tinggi,"ucapnya. "Ini menginterpolasi ke tingkat di mana kita benar-benar dapat memproses 3D, dan kemudian ketegangan otak itu hilang," ujarnya.Cameron percaya bahwa kecepatan bingkai yang lebih tinggi meningkatkan realisme dan imersi, alih-alih mengurangi pengalaman menonton.Seperti film The Hobbit karya Peter Jackson sebelumnya, The Way of Water menggunakan HFR (High Frame Rate) untuk meningkatkan imersi dalam dunia 3D film tersebut.Sementara sebagian besar film standar disajikan pada 24 frame per detik (fps), Jackson dan Cameron, di antara sutradara lainnya, memutuskan untuk menggunakan 48fps untuk sebagian besar durasi film, yang secara teoritis membuat adegan tampak lebih "nyata."Masa kejayaan film blockbuster 3D mungkin telah berakhir, tetapi Cameron terus memperjuangkannya dengan film-film Avatar -nya.Avatar Fire and Ash sendiri mulai tayang di bioskop Tanah Air tanggal 17 Desember 2025, sementara di Amerika Serikat pada 19 Desember 2025. 


(prf/ega)